JAKARTA — Kawasan Blok M, Jakarta Selatan, kembali menjadi salah satu magnet bagi warga Ibu Kota yang ingin menikmati kuliner sekaligus merasakan suasana kawasan yang tengah bergeliat. Di tengah menjamurnya tempat makan dengan konsep modern, sejumlah kuliner khas lokal justru ikut mendapatkan panggung. Salah satunya Mie Kangkung Kite yang berada di kawasan Blok M Hub.

Berada di terowongan Blok M Hub, kedai tersebut menawarkan pengalaman kuliner yang berbeda. Bukan sekadar menyajikan semangkuk mi, Mie Kangkung Kite membawa kembali cita rasa kuliner Betawi yang memiliki sejarah panjang dan merupakan hasil akulturasi budaya China dan Betawi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Lokasinya dapat dijangkau dengan berjalan kaki sekitar 10 menit dari jembatan utama Blok M Hub. Kedai berada tepat di bawah tangga menuju terowongan yang sebelumnya dikenal sebagai Blok M Mall.

Mie Kangkung Kite mulai beroperasi pada Juni 2024. Meski tergolong baru sebagai kedai, resep yang digunakan bukanlah racikan baru. Menu andalan tersebut berasal dari resep rumahan keluarga yang telah bertahan selama lebih dari dua dekade.

Owner Mie Kangkung Kite, Rico Tungadi, mengatakan dirinya bersama rekannya sengaja membawa kuliner tersebut ke ruang publik agar mie kangkung dapat dikenal lebih luas.

“Konsepnya halal. Kami menggunakan daging ayam sehingga bisa dinikmati semua kalangan,” ujar Rico.

Menurut Rico, selama ini mie kangkung cukup banyak ditemukan dalam versi nonhalal dan umumnya dijual dalam skala rumahan atau menggunakan gerobak. Karena itu, Mie Kangkung Kite hadir dengan konsep yang berbeda dengan mempertahankan karakter rasa tradisional sekaligus memastikan menu dapat dinikmati konsumen dari berbagai kalangan.

Nuansa Betawi Tempo Dulu

Pengalaman menikmati mie kangkung di kedai ini tidak hanya ditawarkan melalui makanan. Begitu tiba di lokasi, pengunjung akan menemukan konsep kedai yang mengusung suasana Betawi tempo dulu.

Bagian depan kedai dibuat menyerupai rumah zaman dahulu dengan sejumlah ornamen bernuansa klasik. Lampu-lampu bergaya jadul turut memperkuat atmosfer tersebut. Interiornya juga sengaja dibuat sederhana tanpa pendingin ruangan dan hanya mengandalkan kipas angin.

Nuansa tempo dulu semakin terasa melalui penggunaan piring, mangkuk, dan gelas bercorak blurik. Di dalam kedai terdapat dua meja panjang yang mampu menampung sekitar 24 orang. Sementara itu, tiga meja tersedia di bagian teras dengan kapasitas sekitar dua hingga empat orang per meja.

Alunan musik khas Betawi yang terdengar di dalam kedai semakin melengkapi suasana. Pengunjung seolah diajak menikmati makanan tradisional dalam atmosfer Jakarta tempo dulu.

Semangkuk Mie Kangkung dengan Kuah Kaldu Kaya Rasa

Menu utama yang tentu menjadi alasan utama datang ke kedai ini adalah mie kangkung. Pengunjung dapat memilih dua ukuran porsi, yakni sedang dan gede.

Sekitar 10 menit setelah dipesan, semangkuk mie kangkung disajikan dalam kondisi hangat. Mie kuning berpadu dengan kangkung, tauge, daging ayam cincang dalam jumlah melimpah, serta taburan bawang goreng.

Sensasi rasa dapat semakin disesuaikan dengan menambahkan perasan jeruk limau dan sambal. Kuahnya memiliki warna kecokelatan dengan karakter gurih dan sedikit manis. Teksturnya relatif ringan sehingga tidak terasa terlalu berat.

Perasan jeruk limau memberikan rasa segar, sementara sambal berbahan kacang tanah giling dan cabai menambahkan sensasi pedas. Tekstur mie yang mudah dikunyah berpadu dengan kangkung dan tauge yang memberikan sensasi renyah.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2