BERITASIBER.COM | LAMONGAN – Jika Anda mencari kuliner yang benar-benar merepresentasikan budaya dan kearifan lokal masyarakat Lamongan, maka Nasi Boran adalah jawabannya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Makanan tradisional ini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan simbol identitas kuliner merakyat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Berbeda dengan soto atau pecel lele yang sudah menjamur di berbagai kota besar di Indonesia, Nasi Boran terbilang cukup langka dan biasanya hanya bisa ditemukan dengan mudah di daerah asalnya, Lamongan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Keunikan cara penyajian, kekayaan rasa bumbu, serta variasi lauknya yang melimpah membuat hidangan ini memiliki tempat istimewa di hati warga lokal maupun wisatawan yang kebetulan melintas di pesisir utara Jawa.

Daya tarik pertama dari Nasi Boran terletak pada namanya yang unik. Kata “Boran” sebenarnya merujuk pada tempat menyimpan nasi yang digunakan oleh para penjualnya, yakni sebuah anyaman bambu berukuran besar yang diletakkan di punggung atau digendong.

Nilai tradisional hidangan ini semakin kental berkat wadah penyajiannya. Alih-alih menggunakan piring kaca atau plastik modern, Nasi Boran disajikan di atas ingke—piring rotan atau anyaman bambu yang dialasi daun pisang segar.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2