BERITASIBER.COM | LAMONGAN – Memasuki puncak arus balik Idulfitri 1447 Hijriah, aktivitas ekonomi di jalur nasional Lamongan–Surabaya menunjukkan peningkatan signifikan. Salah satu sektor yang terdampak positif adalah penjualan oleh-oleh khas daerah, khususnya wingko babat yang menjadi incaran para pemudik.
Sepanjang Jalan Panglima Sudirman, Lamongan, deretan toko oleh-oleh tampak dipadati pembeli sejak pagi hingga malam hari. Banyak pemudik sengaja menghentikan perjalanan mereka untuk membeli kudapan tradisional berbahan dasar kelapa tersebut sebagai buah tangan sebelum kembali ke kota perantauan.
Lonjakan permintaan ini memberikan berkah tersendiri bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat. Salah satunya dirasakan oleh Bambang Subirawan, pemilik usaha Wingko Sedap Mantab. Ia mengaku terjadi peningkatan produksi yang cukup drastis dibandingkan hari biasa.
“Kalau hari normal kami hanya membuat sekitar 2 sampai 3 kilogram adonan, sekarang bisa mencapai 25 kilogram per hari. Permintaan terus datang sejak arus balik mulai meningkat,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).
Meski permintaan melonjak tajam, Bambang menegaskan pihaknya tetap mempertahankan kualitas produk. Proses pembuatan wingko masih dilakukan secara tradisional dengan teknik pemanggangan yang memakan waktu antara 45 hingga 60 menit agar menghasilkan tekstur dan cita rasa yang khas.
Beragam varian rasa ditawarkan untuk menarik minat pembeli, mulai dari rasa nangka, durian, hingga varian unik ketan hitam yang menjadi favorit pelanggan. Keunikan rasa tersebut menjadi salah satu daya tarik utama yang membuat wingko babat Lamongan tetap diminati lintas generasi.
Dari sisi harga, pelaku usaha juga berupaya menjaga keterjangkauan agar tetap ramah di kantong pemudik. Satu kotak wingko berisi 10 buah dijual dengan harga Rp27.000 untuk semua varian rasa, sehingga masih mudah dijangkau oleh berbagai kalangan.





