BERITASIBER.COM – Masa remaja menjadi fase penting dalam perjalanan seseorang menuju kedewasaan. Pada periode ini, remaja menghadapi berbagai perubahan sekaligus tuntutan, mulai dari persoalan keluarga, tekanan akademik, hubungan sosial, hingga tantangan dalam mengenali dan mengelola emosi.
Berbagai tekanan tersebut dapat memicu stres. Jika tidak dikelola dengan baik, stres yang berkepanjangan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan meningkatkan risiko munculnya persoalan kesehatan mental yang lebih serius.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan stres sebagai kondisi kekhawatiran atau ketegangan mental yang disebabkan oleh situasi sulit. Stres sebenarnya merupakan respons alami manusia ketika menghadapi tantangan atau ancaman. Namun, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian apabila mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Pada kelompok remaja, persoalan kesehatan mental menjadi perhatian global. Data UNICEF pada 2019 memperkirakan sekitar satu dari tujuh remaja di dunia mengalami gangguan jiwa. Jumlah tersebut diperkirakan mencapai 166 juta remaja, terdiri atas 89 juta laki-laki dan 77 juta perempuan.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membangun kesadaran mengenai kesehatan mental sejak usia remaja. Dukungan yang tepat dibutuhkan agar remaja memiliki kemampuan menghadapi tekanan sekaligus memperoleh bantuan ketika mengalami masalah yang tidak mampu mereka tangani sendiri.
Masalah Keluarga hingga Beban Sekolah
Stres pada remaja dapat dipengaruhi berbagai faktor. Lingkungan keluarga menjadi salah satu sumber tekanan yang cukup kompleks.
Persoalan seperti perceraian orang tua, kondisi ekonomi keluarga, masalah utang, kurangnya komunikasi dengan orang tua, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat memengaruhi kondisi psikologis remaja.
Di lingkungan sekolah, beban akademik juga dapat menjadi pemicu. Tugas yang menumpuk dan tekanan menghadapi ujian dapat membuat remaja merasa cemas atau kewalahan, terutama apabila tidak memiliki strategi pengelolaan stres yang baik.
Selain faktor eksternal, karakter dan persoalan personal juga dapat berpengaruh. Kecenderungan berpikir berlebihan atau overthinking, sifat tertutup, persoalan hubungan dengan pasangan, serta masalah lingkungan pergaulan menjadi beberapa faktor yang dapat memperbesar tekanan.
Pengalaman stres yang dialami remaja juga tidak selalu sama. Dalam sejumlah pengalaman yang dikaji, tekanan berat dapat berkaitan dengan persoalan keluarga, ujian sekolah, hingga pengalaman menjadi korban pelecehan seksual.
Karena itu, penting bagi orang tua dan lingkungan sekitar untuk tidak langsung menganggap perubahan perilaku remaja sebagai bentuk kenakalan. Perubahan tersebut dapat menjadi tanda bahwa seorang remaja sedang menghadapi tekanan yang membutuhkan perhatian.
Cara Remaja Menghadapi Tekanan
Kemampuan menghadapi stres atau coping mechanism menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental remaja.
Cara menghadapi stres dapat dilakukan melalui strategi yang positif. Remaja dapat mencari dukungan dari orang yang dipercaya, melakukan aktivitas yang menyenangkan, menjalankan ibadah sesuai keyakinan, meluangkan waktu untuk diri sendiri, serta menyusun rencana dan tujuan hidup.





