SURABAYA — Mi instan menjadi pilihan makanan praktis bagi banyak anak muda. Selain mudah disiapkan, makanan ini relatif terjangkau dan dapat ditemukan dengan mudah. Namun, kebiasaan mengonsumsi mi instan terlalu sering kerap dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk perlemakan hati atau fatty liver.
Pertanyaannya, apakah mi instan secara langsung dapat menyebabkan perlemakan hati?
Jawabannya tidak sesederhana itu. Konsumsi mi instan tidak dapat disebut sebagai penyebab tunggal perlemakan hati. Risiko lebih berkaitan dengan pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan, terutama apabila konsumsi makanan ultra-proses berlangsung terlalu sering dan disertai asupan kalori berlebih serta aktivitas fisik yang rendah.
Data yang disampaikan World Health Organization (WHO) Indonesia menunjukkan hampir satu dari lima remaja di Indonesia mengalami kelebihan berat badan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena berat badan berlebih berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan metabolik.
Perlemakan hati yang berkaitan dengan gangguan metabolik kini dikenal sebagai metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD). Kondisi ini terjadi ketika terdapat penumpukan lemak di hati yang berkaitan dengan faktor metabolik, seperti kelebihan berat badan dan gangguan metabolisme.
Karena itu, kebiasaan makan sejak usia remaja dan dewasa muda perlu mendapat perhatian. Pola konsumsi yang didominasi makanan ultra-proses, minim sayuran dan buah, sering mengonsumsi minuman manis, serta kurang melakukan aktivitas fisik dapat menjadi kombinasi yang kurang baik bagi kesehatan metabolik.
Bukan Berarti Mi Instan Harus Dihindari Total
Kekhawatiran terhadap kesehatan hati bukan berarti seseorang harus menghapus mi instan sepenuhnya dari menu. Hal yang lebih penting adalah memperhatikan frekuensi konsumsi, ukuran porsi, serta makanan lain yang dikonsumsi dalam keseharian.
Mi instan sebaiknya tidak menjadi pengganti rutin untuk makanan yang lebih kaya zat gizi. Pola makan yang mendukung kesehatan metabolik idealnya mencakup lebih banyak sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta sumber protein yang bergizi.





