LAMONGAN — Mendukung upaya mewujudkan swasembada pangan sekaligus meningkatkan kualitas hasil pertanian, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) berkolaborasi dengan Universitas Islam Lamongan (UNISLA) melakukan inovasi teknologi tepat guna berupa mesin pengering padi berkapasitas 500 kilogram.

Inovasi tersebut diharapkan mampu menjadi solusi bagi petani, khususnya dalam menghadapi kendala pengeringan gabah yang selama ini masih banyak dilakukan secara konvensional dengan mengandalkan sinar matahari.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, produksi padi di Kabupaten Lamongan pada 2025 mencapai 904.928 ton Gabah Kering Giling (GKG) dengan luas panen mencapai 175.832 hektare. Capaian tersebut menempatkan Lamongan sebagai salah satu sentra produksi padi terbesar di Jawa Timur.

Besarnya potensi produksi padi tersebut perlu diimbangi dengan penanganan pascapanen yang baik. Salah satu tahapan penting yang menentukan kualitas gabah adalah proses pengeringan. Gabah hasil panen harus segera dikeringkan untuk menurunkan kadar air hingga mencapai tingkat yang aman untuk penyimpanan, yakni sekitar 13–14 persen.

Selama ini, sebagian petani masih mengandalkan metode penjemuran gabah secara tradisional di bawah sinar matahari. Cara tersebut memang relatif murah dan mudah dilakukan, tetapi sangat bergantung pada kondisi cuaca. Ketika intensitas hujan tinggi atau matahari tidak cukup terik, proses pengeringan dapat berlangsung lebih lama dan berpotensi menurunkan kualitas gabah.

Selain membutuhkan waktu yang cukup panjang, penjemuran secara terbuka juga membuat gabah rentan terkontaminasi debu, kotoran, maupun material lain dari lingkungan sekitar. Pengeringan yang tidak optimal dapat meningkatkan risiko serangan jamur, kerusakan gabah, penurunan mutu, hingga berkurangnya nilai jual hasil panen.

Sebaliknya, pengeringan yang tidak terkendali juga dapat memberikan dampak negatif. Suhu yang terlalu tinggi atau proses pengeringan yang tidak merata dapat menyebabkan kerusakan fisik pada gabah, meningkatkan tingkat beras pecah, serta menurunkan kualitas beras yang dihasilkan.

Melihat kondisi tersebut, tim dosen UTM bersama UNISLA menghadirkan mesin pengering padi yang dirancang untuk membantu petani memperoleh proses pengeringan yang lebih efektif, terkontrol, dan tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca.

Mesin pengering yang dikembangkan memiliki kapasitas hingga 500 kilogram gabah dalam satu proses. Mesin tersebut mempunyai dimensi panjang 240 sentimeter, lebar 120 sentimeter, dan tinggi 120 sentimeter. Teknologi ini diharapkan dapat menjadi alternatif bagi petani maupun kelompok tani dalam meningkatkan efisiensi penanganan pascapanen.

Kegiatan inovasi tersebut melibatkan kolaborasi lintas institusi. Tim diketuai oleh Dr. Millatul Ulya, S.TP., M.T., dengan anggota Dr. M. Fuad Fauzul Mu’tamar, M.Si., dari Fakultas Pertanian UTM serta Dr. Mohammad Yaskun, S.E., M.M., dosen Program Studi Manajemen sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNISLA.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2