“Kami tetap menyiapkan opsi lain. Bukan karena tidak yakin, tetapi sebagai bentuk antisipasi agar tetap siap menghadapi segala kemungkinan,” jelas Callista.
Menariknya, meskipun merupakan saudara kembar, keduanya memiliki gaya belajar yang berbeda. Callista cenderung memilih metode belajar melalui diskusi karena dinilai lebih interaktif dan memungkinkan adanya evaluasi secara langsung. Sementara itu, Carissa lebih nyaman belajar secara mandiri karena dapat menjaga fokus tanpa gangguan.
Perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan bagi keduanya. Mereka mampu saling melengkapi dan mendukung satu sama lain dalam proses belajar. Di tengah kesibukan akademik, keduanya juga tetap aktif dalam kegiatan non-akademik sebagai bentuk pengembangan diri.
Callista dikenal aktif dalam organisasi sekolah dan pernah menjabat sebagai Ketua OSIS saat kelas 10 serta Wakil Ketua OSIS saat kelas 11. Pengalaman tersebut membentuk kemampuan kepemimpinan dan manajemen waktu yang baik. Di sisi lain, Carissa menyalurkan minatnya di bidang olahraga dengan aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler voli.
Kisah Callista dan Carissa menjadi inspirasi bagi para pelajar di seluruh Indonesia. Keberhasilan mereka menunjukkan bahwa lolos SNBP tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga strategi, konsistensi, serta kemampuan menyeimbangkan berbagai aktivitas.
Dengan semangat dan persiapan yang matang, keduanya kini siap menapaki perjalanan baru sebagai mahasiswa di Universitas Airlangga, sekaligus membawa harapan besar untuk meraih masa depan yang gemilang.






