BERITASIBER.COM – Inovasi berbasis lingkungan kembali lahir dari kalangan pelajar. Dua siswa MAN 1 Lamongan, Mohammad Rizqi Hisyam dan Najwa Aqilah Zahrotun Nadhifa, berhasil menghadirkan terobosan melalui produk peci ramah lingkungan bernama Songgola (Songkok Eceng Gondok Lamongan).
Mengusung konsep fesyen berkelanjutan, produk ini memanfaatkan limbah tanaman eceng gondok sebagai material utama yang dipadukan dengan kekayaan budaya lokal serta dukungan teknologi digital, sehingga menghadirkan sebuah karya yang diproyeksikan mampu menjawab tantangan industri kreatif pada masa mendatang.
Berangkat dari persoalan lingkungan yang selama ini dihadapi masyarakat, khususnya melimpahnya pertumbuhan eceng gondok di sejumlah perairan Lamongan, kedua pelajar tersebut melihat peluang yang berbeda. Tanaman yang selama ini dianggap sebagai gulma pengganggu justru dinilai memiliki potensi ekonomi apabila diolah melalui proses yang tepat.
Melalui serangkaian riset, eksperimen, dan pengembangan material secara mandiri, eceng gondok diproses menggunakan teknik pengeringan serta pengolahan khusus hingga menghasilkan lembaran serat yang kuat, ringan, dan memiliki karakter estetika yang unik. Material tersebut kemudian diaplikasikan menjadi bagian utama dari Songgola yang memiliki nilai artistik sekaligus ramah lingkungan.
Mohammad Rizqi Hisyam menjelaskan bahwa Songgola tidak hanya dirancang sebagai produk fesyen, tetapi juga sebagai representasi kepedulian terhadap lingkungan dan pelestarian budaya daerah.
“Melalui Songgola kami ingin menunjukkan bahwa limbah alam dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi. Kami berharap inovasi ini mampu menjadi solusi terhadap persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif baru di Lamongan,” ujarnya, Senin (6/7/2026).
Keunikan Songgola tidak berhenti pada penggunaan materialnya. Produk ini juga menghadirkan identitas budaya melalui penerapan motif khas Batik Lamongan yang dikemas dengan pendekatan desain modern. Perpaduan unsur tradisional dan kontemporer tersebut menjadikan Songgola tampil lebih eksklusif tanpa meninggalkan akar budaya lokal.
Pendekatan ini dinilai menjadi strategi penting dalam memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda dengan cara yang lebih relevan terhadap perkembangan zaman. Di tengah tren industri fesyen yang mulai mengarah pada konsep keberlanjutan, identitas lokal justru dipandang sebagai kekuatan utama yang mampu meningkatkan daya saing produk di pasar nasional maupun internasional.
Mengikuti perkembangan transformasi digital, Songgola juga dibekali fitur QR Code yang terintegrasi pada setiap produk. Melalui pemindaian menggunakan telepon pintar, pengguna dapat mengakses berbagai informasi mengenai filosofi motif batik, proses produksi yang mengedepankan prinsip ramah lingkungan, hingga perjalanan inovasi yang dilakukan oleh para pengembangnya.





