BERITASIBER.COM – Bagi umat Muslim, menunaikan ibadah haji bukan sekadar menjalankan rukun Islam kelima, melainkan sebuah perjalanan spiritual sakral yang menjadi dambaan seumur hidup. Di Pulau Madura, momentum keberangkatan ke Tanah Suci selalu dibalut dengan kekentalan adat dan religiusitas yang tinggi, salah satunya melalui tradisi Slamettan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tradisi tasyakuran ini merupakan warisan turun-temurun yang masih terjaga erat hingga kini. Ritual ini menjadi simbol kuatnya ikatan sosial dan spiritual masyarakat Madura dalam mengiringi langkah para calon jamaah haji (CJH) menuju Baitullah.

Suasana khidmat terasa di kediaman pasangan Bapak Iksan dan Ibu Rumiah, calon jamaah haji asal Jalan Rajawali, Kabupaten Sampang. Menjelang keberangkatan mereka pada musim haji tahun 2026 ini, keluarga besar tersebut menggelar ritual slamettan dengan mengundang sanak saudara, tetangga, hingga kerabat dekat, Jumat (08/05/2026).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Lantunan doa, selawat, dan zikir menggema di kediaman mereka. Bagi Bapak Iksan, mengundang orang-orang terdekat untuk berdoa bersama adalah bagian tak terpisahkan dari persiapan batin sebelum menginjakkan kaki di Makkah dan Madinah.

“Kami mengadakan slametden (slamettan) ini untuk memohon dan meminta doa dari keluarga, tetangga, juga teman-teman. Harapan besar kami adalah agar kami berdua diberikan kekuatan, kesehatan, dan kelancaran untuk menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan sempurna,” ungkap Bapak Iksan dengan nada penuh haru.

Ia juga menambahkan bahwa doa dari orang-orang sekitar diyakini menjadi “bekal” spiritual agar mereka bisa kembali ke tanah air dalam kondisi sehat dan menyandang gelar haji mabrur.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2