BERITASIBER.COM – Industri hulu minyak dan gas (migas) yang selama berpuluh tahun identik dengan dominasi maskulin, kini perlahan bertransformasi. Semangat emansipasi yang dulu diperjuangkan Raden Ajeng Kartini, kini menemukan manifestasi nyata di lapangan pengeboran, anjungan lepas pantai, hingga jajaran direksi perusahaan energi nasional.
Di tengah tuntutan untuk terus menjaga ketahanan energi nasional, kehadiran perempuan bukan lagi sekadar pelengkap atau pemanis kebijakan. Mereka telah bertransformasi menjadi talenta unggul yang mengisi posisi-posisi krusial, membawa inovasi, dan memastikan operasional energi tetap berjalan optimal.
Kiprah perempuan di sektor migas kini menyentuh berbagai lini strategis. Dari laut lepas hingga fasilitas daratan, para perempuan ini membuktikan bahwa kompetensi tidak mengenal gender.
Di sektor maritim, Capt. Agustin Nurul Fitriyah, M. Mar. mencatatkan sejarah sebagai nakhoda perempuan pertama di kapal tanker MT Merbau milik PT Pertamina Trans Kontinental (PTK).
Kehadirannya di balik kemudi kapal tanker menegaskan bahwa tanggung jawab besar dalam distribusi logistik energi berada di tangan yang tepat. Keberhasilan Agustin didukung oleh Dewi Susanti, yang kini memegang kendali strategis sebagai Direktur Armada Industri Maritim PTK, memastikan orkestrasi operasional armada berjalan efisien.
Sementara di lapangan operasional yang penuh tantangan, perempuan-perempuan tangguh lainnya menunjukkan dedikasi tinggi. Casanova Istiqomah Wanadana terjun langsung sebagai Junior Officer HSSE Offshore di zona 6 Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatera (PHE OSES), memastikan aspek keselamatan kerja tetap menjadi prioritas utama. Di Riau, Royfa Fenandita Finadzir memegang tanggung jawab teknis sebagai Operator Plant Operations di Pertamina Hulu Rokan (PHR).





