Filosofi Keikhlasan dan Kebersamaan

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Secara etimologi, kata slamettan berasal dari kata “selamat”. Dalam konteks keberangkatan haji di Madura, tradisi ini memiliki makna ganda. Pertama, sebagai bentuk rasa syukur atas panggilan Allah SWT yang akhirnya tiba setelah bertahun-tahun menunggu masa tunggu (waiting list). Kedua, sebagai permohonan maaf dan izin (pamitan) kepada lingkungan sekitar.

Masyarakat Madura percaya bahwa doa yang dipanjatkan secara kolektif memiliki kekuatan besar. Oleh karena itu, dalam acara ini, pemilik rumah biasanya menyajikan hidangan sebagai bentuk sedekah. Nilai kebersamaan ini menunjukkan bahwa keberangkatan haji seorang warga bukan hanya menjadi kegembiraan keluarga inti, melainkan kegembiraan kolektif satu lingkungan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Harapan kami, selain ibadah yang mabrur, kami bisa pulang kembali ke tanah air dengan selamat tanpa kurang satu apa pun,” tambah Ibu Rumiah.

Tahun 2026 menjadi tahun yang istimewa bagi banyak warga Sampang, mengingat antusiasme masyarakat untuk berhaji tetap tinggi meski tantangan fisik dan usia selalu menyertai. Tradisi seperti yang dilakukan keluarga Bapak Iksan ini juga menjadi sarana bagi warga yang belum berangkat untuk menitipkan doa agar kelak mereka juga mendapatkan kesempatan yang sama.

Hingga menjelang hari pemberangkatan, gelombang acara slamettan diprediksi akan terus berlangsung di berbagai pelosok wilayah Sampang dan Madura pada umumnya. Hal ini membuktikan bahwa bagi orang Madura, haji bukan hanya urusan administrasi dan fisik, tetapi juga urusan hati yang harus diawali dengan rukun kepada sesama dan tunduk kepada Sang Pencipta melalui doa bersama.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2