Ketika harga barang kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan tarif listrik naik, maka masyarakat terpaksa mengalihkan anggaran dari konsumsi sekunder atau tersier seperti baju baru, kosmetik, gadget, maupun produk rekreasi.

Selain itu, fenomena ini juga mencerminkan perubahan perilaku konsumsi masyarakat yang kini lebih rasional, cermat, dan berhati-hati dalam berbelanja, serta mengindikasikan bahwa banyak konsumen melakukan survei harga secara langsung sebelum memutuskan untuk membeli di tempat atau di waktu lain.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Meskipun dari sisi akademis hal ini dapat dinilai sebagai peningkatan literasi konsumen, namun dari sisi pelaku usaha, perilaku ini menimbulkan ketidakpastian dan turunnya efektivitas strategi pemasaran konvensional.

Kondisi ini juga mengingatkan pentingnya transformasi strategi pemasaran dan pelayanan pelanggan bagi pelaku usaha, terutama UMKM, yang kini harus lebih kreatif dalam menciptakan pengalaman belanja yang tidak hanya menarik pengunjung tetapi juga mendorong terjadinya transaksi.

Salah satu pendekatan yang bisa dicoba adalah model pemasaran berbasis experience atau pengalaman, di mana produk tidak hanya dijual, tetapi juga diceritakan melalui narasi personal, demonstrasi langsung, atau integrasi dengan event-event komunitas kecil yang memberikan nilai tambah emosional kepada calon pembeli.

Misalnya, pelaku UMKM makanan bisa membuat demo masak atau memberikan tester langsung kepada pengunjung, sementara penjual fashion bisa memanfaatkan model lokal atau kampanye media sosial dengan pendekatan komunitas.

Langkah lain yang juga direkomendasikan adalah mendorong kolaborasi antar pelaku UMKM agar bisa menciptakan pasar bersama yang lebih ramai, kompetitif, dan saling menopang. Sebagai contoh, beberapa pelaku UMKM di Kota Batu, Jawa Timur, berhasil membentuk klaster usaha kuliner yang saling mempromosikan produk satu sama lain, membagi beban promosi, serta menghadirkan paket bundling produk yang lebih menarik dan terjangkau bagi konsumen yang sensitif terhadap harga.

Dalam jangka panjang, pemerintah daerah dan akademisi perlu terlibat aktif dalam memberikan pelatihan adaptasi digital, literasi pasar, serta dukungan pembiayaan berbasis kinerja agar UMKM tidak sekadar bertahan, tetapi mampu bersaing secara sehat.

Pemerintah pusat maupun daerah juga diharapkan mampu menyediakan subsidi atau insentif belanja masyarakat untuk produk lokal, khususnya pada momen-momen belanja tahunan seperti Hari UMKM Nasional, Ramadan, atau Hari Kemerdekaan, yang biasanya menjadi momentum emas dalam peningkatan konsumsi domestik.

Selain itu, kampanye nasional untuk membeli produk lokal perlu digiatkan kembali agar masyarakat menyadari bahwa keputusan belanja mereka turut mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat sekitarnya.

Sementara itu, pelaku usaha perlu menyadari bahwa saat ini konsumen bukan hanya mencari harga, tetapi juga makna dan relevansi sosial dari produk yang mereka beli.

Sebagai penutup, fenomena Rojali dan Rohana bukan sekadar bentuk humor sosial atau tren viral di media sosial, tetapi merupakan refleksi nyata dari kondisi ekonomi rumah tangga masyarakat Indonesia yang tengah mengalami tekanan.

Di satu sisi, perilaku ini menunjukkan kecerdasan konsumen dalam mengelola keuangan, tetapi di sisi lain, ini menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha yang bergantung pada transaksi langsung. Oleh karena itu, sinergi antara pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menjadikan fenomena ini sebagai momentum evaluasi model bisnis dan kebijakan ekonomi, agar sektor ritel maupun UMKM tetap menjadi pilar utama dalam pembangunan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.(Bs).

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2