Mengenai aspek ekonomi, skema bagi hasil yang diterapkan adalah 50:50. Seluruh keuntungan bersih dari hasil panen dibagi rata antara petani dan koperasi. Pola ini dinilai sangat ideal bagi petani di Boyolali karena memberikan rasa aman secara finansial sekaligus transfer teknologi budidaya dari tenaga ahli koperasi kepada petani lokal.
Potensi alam Boyolali, khususnya di kawasan lereng gunung, terbukti sangat mendukung produktivitas kentang. Dengan penggunaan bibit unggul dari kemitraan tersebut, setiap tanaman mampu menghasilkan 1,5 hingga 2,5 kg kentang. Secara akumulatif, produksi rata-rata di Kecamatan Selo kini menyentuh angka 20-25 ton per hektare.
Suyanta menegaskan bahwa target swasembada tidak akan berhenti di Selo. Dinas Pertanian telah melakukan pemetaan wilayah (mapping) untuk menduplikasi keberhasilan Selo ke empat kecamatan penyangga lainnya. Adapun wilayah yang menjadi fokus ekspansi berikutnya adalah Kecamatan Cepogo, Kecamatan Gladagsari, Kecamatan Musuk, Kecamatan Tamansari.
Kelima kecamatan tersebut memiliki kesamaan agroklimat yang cocok untuk budidaya kentang berkualitas tinggi. Dengan perluasan yang terukur, Boyolali diprediksi akan menjadi salah satu pemasok kentang terbesar di Jawa Tengah dalam beberapa tahun ke depan.
Program ini selaras dengan arahan Bupati Agus Irawan Dwi Fajar Nirwana yang menekankan pada peningkatan pendapatan per kapita petani. Melalui swasembada, Boyolali tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi lokal, tetapi juga memiliki daya tawar tinggi di pasar regional.
“Harapan kami, kemitraan ini menjadi pilar utama dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Jika rantai pasok dari hulu ke hilir sudah terjamin seperti ini, swasembada bukan lagi sekadar mimpi, melainkan target yang sangat realistis untuk dicapai,” pungkas Suyanta.





