Ia meminta masyarakat yang menemukan persoalan dalam pelayanan agar menyampaikannya melalui tim pengaduan yang tersedia.

“Harapannya kemarin itu tidak langsung dirilis ke media online. Bisa sebenarnya langsung melaporkan ke tim pengaduan jika mendapatkan hal-hal yang tidak menyenangkan. Tapi terima kasih atas ulasannya dan mohon maaf atas ketidaknyamanannya,” ujarnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Arie Pertanyakan Hasil Evaluasi

Namun, penjelasan tersebut belum membuat Arie puas. Ia mempertanyakan hasil rapat yang disebut telah dilakukan pihak Puskesmas Bontobangun.

Menurutnya, publik perlu mengetahui langkah konkret yang diambil setelah muncul dugaan petugas tidak fokus memberikan pelayanan kepada pasien.

“Kami kecewa, kepala puskesmas hanya menindaklanjuti peristiwa tersebut dengan menggelar rapat dengan seluruh unit pelayanan. Tapi mana hasil rapatnya? Apakah rapat itu evaluasi? Kalau evaluasi, apa hasil evaluasinya terhadap para petugas itu?” kata Arie.

“Ini menyangkut pelayanan kesehatan masyarakat, dan publik wajib tahu apa sikap tegas dari pengambil kebijakan di Puskesmas Bontobangun,” lanjutnya.

Arie juga meminta pihak puskesmas melakukan pemeriksaan internal, termasuk mengecek rekaman kamera pengawas atau CCTV apabila tersedia.

“Kan ada CCTV, silakan cek siapa oknum petugas yang diduga bergosip dan tertawa itu. Pastikan mereka dievaluasi seperti apa, diberikan sanksi atau teguran atau apa. Ini yang kami tunggu dari kepala puskesmas,” tegasnya.

Ia mengatakan pihaknya akan terus mengadvokasi persoalan tersebut hingga ada penjelasan dan langkah konkret dari Puskesmas Bontobangun.

Arie kembali menegaskan bahwa dugaan petugas mengobrol dan tertawa saat jam pelayanan bukan informasi yang diperolehnya dari pihak lain. Ia mengaku melihat dan mendengar langsung kejadian tersebut ketika berada di lokasi.

“Ini kan peristiwanya saya saksikan langsung. Jadi harusnya kepala puskesmas mengecek kebenarannya dan memeriksa para petugas itu. Takutnya ke depan terjadi peristiwa seperti ini lagi dan hanya ditindaklanjuti dengan rapat internal yang hasilnya tidak disampaikan kepada publik,” katanya.

Menurut Arie, persoalan tersebut harus menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Ia bahkan membuka kemungkinan membawa persoalan itu ke DPRD Bulukumba melalui rapat dengar pendapat (RDP) apabila tidak ada tindak lanjut yang dinilai memadai.

“Intinya kami ingin ada evaluasi dan pemeriksaan serius terhadap para petugas itu. Kalau memang terbukti bahwa saat jam pelayanan mereka tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya, harus ada tindakan sesuai ketentuan. Kami juga menunggu penjelasan terbuka kepada masyarakat, termasuk harusnya kami diundang dalam forum tertentu untuk memberikan penjelasan mengenai kronologi peristiwa tersebut, sehingga tidak ada narasi sepihak,” pungkasnya.

” Kalau memang tidak ada teguran dari kepala puskesmas, kami akan gelar aksi dikantor bupati untuk minta diganti ini kepala Puskesmas Bontobangun”, Tutup Arie.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2