Fenomena generasi “brain rot” secara langsung bertentangan dengan semangat Indonesia Emas 2045. Jika generasi muda tidak segera diarahkan kembali pada nilai-nilai produktif dan edukatif, maka kita akan menghadapi generasi yang tidak siap kerja, tidak siap berwirausaha, dan tidak mampu bersaing secara global.
Peran Strategis Pendidikan dan Organisasi Sosial
Mengatasi tantangan ini membutuhkan intervensi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, pelaku usaha, hingga organisasi sosial dan keagamaan.
Dalam konteks ini, kampus tidak boleh sekadar menjadi tempat pengajaran formal. Ia harus menjadi ruang pembentukan karakter, pelatihan kepemimpinan, serta pembinaan semangat kewirausahaan sejak dini.
Sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Lamongan (UNISLA), saya melihat pentingnya mengintegrasikan kurikulum yang tidak hanya mengajarkan teori ekonomi, tetapi juga membentuk karakter tangguh, jujur, dan pekerja keras.
Mahasiswa harus dikenalkan pada realitas dunia usaha dan diberi kesempatan magang langsung di UMKM agar memahami tantangan dan solusi nyata dalam dunia kerja.
Selain itu, organisasi sosial seperti GP Ansor memiliki peran strategis dalam membentengi generasi muda dari kerusakan moral dan intelektual. Melalui kaderisasi, pelatihan kewirausahaan, serta gerakan literasi digital, GP Ansor di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Lamongan, berkomitmen mencetak kader-kader muda yang religius, nasionalis, sekaligus produktif dalam bidang ekonomi.
Teknologi Sebagai Sarana, Bukan Tujuan
Kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi. Namun kita harus memastikan bahwa generasi muda tidak diperbudak oleh teknologi. Mereka harus memahami bahwa media sosial, artificial intelligence, dan berbagai perangkat digital adalah alat bantu, bukan tujuan akhir.
Pendidikan karakter, etika digital, dan literasi media harus terus ditanamkan agar generasi muda bisa memfilter informasi dan memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang bernilai tambah.
Pelatihan kewirausahaan berbasis digital juga perlu diperluas. Pemerintah daerah dapat bermitra dengan kampus dan komunitas lokal untuk memberikan pelatihan praktis seputar pemasaran daring, manajemen keuangan UMKM, hingga pemanfaatan AI untuk riset pasar.
Semakin banyak anak muda yang melihat potensi bisnis dari sisi produktif, maka semakin kuat pula sektor UMKM kita ke depan.
Menatap Masa Depan dengan Kritis dan Optimis
Indonesia Emas 2045 hanya akan terwujud bila ditopang oleh generasi yang kuat secara moral, tajam secara intelektual, dan tangguh secara mental. Kita tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan ekonomi atau pembangunan infrastruktur. Pembangunan manusia khususnya generasi muda harus menjadi prioritas utama.
Fenomena generasi “brain rot” memang nyata dan mengkhawatirkan, namun bukan berarti tidak bisa diatasi. Dengan kolaborasi antara lembaga pendidikan, pelaku UMKM, organisasi kepemudaan, dan dukungan kebijakan pemerintah, kita bisa membentuk generasi muda yang sadar arah, cinta tanah air, dan siap bersaing dalam ekonomi digital yang semakin kompleks.
Mari kita jadikan momentum ini sebagai refleksi bersama. Indonesia memiliki peluang besar, dan masa depan itu ada di tangan generasi muda hari ini.
Tugas kita adalah memastikan mereka tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tapi juga mampu menjaga akal sehat, nurani, dan semangat gotong royong sebagai warisan luhur bangsa.
Penulis: Dr. Abid Muhtarom (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISLA & Wakil Ketua Pengurus Harian GP Ansor Kabupaten Lamongan)
>>> Klik berita lainnya di Google News BeritaSiber.Com





