MOJOKERTO — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Kementerian Lingkungan Hidup kembali menggelar program pengabdian masyarakat Jagawana Volume 5. Tahun ini, kegiatan tersebut berlangsung di Desa Dilem, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, dengan membawa inovasi budidaya pangan yang menggabungkan tanaman hidroponik dan ikan lele.
Salah satu rangkaian kegiatan bertajuk “Akua Lestari” digelar di Balai Desa Dilem pada Minggu (23/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti warga setempat dan diarahkan untuk memperkenalkan metode sederhana dalam menghasilkan sumber pangan dari lahan terbatas.
Program Akua Lestari menjadi bagian dari upaya BEM UNAIR mendorong penerapan konsep konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Kegiatan tersebut juga dikaitkan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 tentang Responsible Consumption and Production serta SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera.
Dalam kegiatan tersebut, warga diperkenalkan dengan sistem budidaya yang menggabungkan ikan lele dan tanaman sayuran dalam satu wadah. Metode tersebut memanfaatkan ember sebagai media pemeliharaan ikan, sementara bagian atasnya digunakan untuk menanam sayuran secara hidroponik.
Konsep tersebut memungkinkan masyarakat memanfaatkan ruang terbatas untuk menghasilkan dua jenis pangan sekaligus. Selain itu, kotoran ikan yang terdapat dalam air dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman setelah melalui proses dalam sistem budidaya.
Panitia menjelaskan metode tersebut relatif sederhana dan dapat dibuat menggunakan bahan yang mudah ditemukan. Dengan demikian, warga diharapkan dapat menerapkannya secara mandiri untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan rumah tangga maupun mengembangkan budidaya dalam skala lebih besar.
Materi dalam kegiatan Akua Lestari disampaikan oleh mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR dari Program Studi Akuakultur. Para peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teori, tetapi juga mengikuti demonstrasi pembuatan sistem hidroponik ikan lele secara langsung.
Pemateri Akua Lestari, Novandra, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari kondisi masyarakat Desa Dilem yang selama ini lebih banyak berkegiatan di sektor pertanian dan peternakan.
“Karena melihat masyarakat Desa Dilem masih belum mengerti tentang budidaya perikanan, karena di sini berfokus pada sektor pertanian dan peternakan. Kami ingin mengenalkan bahwa budidaya perikanan dan tanaman tanpa tanah juga bisa dijadikan dalam satu media yang sama,” kata Novandra.
Menurutnya, integrasi sektor pertanian dan perikanan dapat menjadi salah satu alternatif inovasi untuk meningkatkan pemanfaatan lahan sekaligus memperkenalkan pola produksi pangan yang lebih efisien.





