MOJOKERTO — Kementerian Lingkungan Hidup Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga melalui program JAGAWANA 5.0 menggelar workshop ecoprint bersama siswa-siswi SDN Dilem, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Senin (24/8/2026).
Kegiatan tersebut mengajak peserta didik kelas 1 hingga kelas 6 untuk mengenal pemanfaatan bahan-bahan alami sebagai media berkarya sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.
Workshop ecoprint menjadi salah satu rangkaian kegiatan JAGAWANA 5.0 yang mengusung edukasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan yang kreatif, edukatif, serta partisipatif. Melalui kegiatan seni berbasis alam ini, siswa tidak hanya diajak menghasilkan sebuah karya, tetapi juga diperkenalkan pada konsep pemanfaatan sumber daya alam secara bijak dan bertanggung jawab.
Dalam kegiatan tersebut, setiap peserta mendapatkan satu buah tote bag berwarna putih yang digunakan sebagai media untuk membuat motif ecoprint. Berbagai daun dan bunga yang berasal dari lingkungan sekitar Desa Dilem disiapkan untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengeksplorasi bentuk dan warna alami sesuai dengan kreativitas masing-masing.
Proses pembuatan ecoprint diawali dengan menyusun daun dan bunga di atas permukaan tote bag. Para siswa bebas menentukan komposisi, posisi, serta pola sesuai dengan imajinasi mereka. Setelah motif tersusun, bahan kemudian ditutup menggunakan lapisan pelindung sebelum dipukul secara perlahan dengan palu kayu.
Teknik tersebut memungkinkan pigmen alami yang terdapat pada daun dan bunga berpindah ke permukaan kain. Hasilnya, setiap tote bag memiliki corak yang berbeda karena dipengaruhi oleh jenis tanaman, bentuk daun, susunan motif, hingga tekanan saat proses pemukulan.
Antusiasme siswa terlihat sejak kegiatan dimulai. Mereka tampak aktif memilih berbagai jenis daun dan bunga yang telah disediakan panitia. Beberapa siswa mencoba menyusun pola secara teratur, sementara lainnya mengeksplorasi bentuk secara lebih bebas. Pendampingan dari panitia turut membantu siswa dalam menyusun motif, menggunakan peralatan, serta menyelesaikan karya mereka.
Tidak sekadar menghasilkan produk, workshop tersebut juga menjadi sarana bagi siswa untuk belajar mengenali lingkungan di sekitar mereka. Daun dan bunga yang sebelumnya mungkin hanya dipandang sebagai bagian dari tumbuhan sehari-hari diperkenalkan sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan menjadi karya seni bernilai guna.
Melalui proses tersebut, siswa diajak memahami bahwa kreativitas dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Pemanfaatan bahan alami menjadi alternatif dalam menghasilkan karya sekaligus memperkenalkan prinsip penggunaan sumber daya secara lebih bijak.





