MOJOKERTO — Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Airlangga (BEM UNAIR) melalui Kementerian Lingkungan Hidup dalam Program Kerja JAGAWANA 5.0 menggelar kegiatan “Teman Peduli” berupa sosialisasi mengenai bullying bagi siswa SMPN 3 Gondang, Kalikatir, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Jumat (21/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa dalam menghadirkan edukasi yang dekat dengan kehidupan siswa sekaligus mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif. Sebanyak 71 siswa kelas 7 SMPN 3 Gondang mengikuti rangkaian kegiatan bersama panitia JAGAWANA 5.0 dan para pendamping.
JAGAWANA 5.0 merupakan salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa BEM UNAIR berupaya memberikan kontribusi secara langsung kepada masyarakat melalui kegiatan edukatif yang menyasar berbagai kelompok usia.
Kegiatan “Teman Peduli” juga memiliki keterkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 atau Good Health and Well-being dan tujuan ke-4 atau Quality Education. Melalui edukasi mengenai bullying, siswa diajak meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental, kesejahteraan emosional, serta pentingnya membangun hubungan sosial yang sehat dengan lingkungan sekitar.
Selain itu, kegiatan ini mendukung terciptanya pendidikan yang berkualitas melalui pemahaman mengenai perilaku perundungan, empati, keberanian menyampaikan pendapat, dan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman bagi seluruh siswa.
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta. Selanjutnya, siswa mendapatkan materi mengenai bullying yang mencakup pengertian, jenis-jenis perundungan, dampak yang dapat ditimbulkan, hingga langkah-langkah pencegahannya.
Materi tidak hanya disampaikan secara satu arah. Setelah memperoleh pemahaman dasar, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan sejumlah kasus bullying yang telah disiapkan oleh panitia. Dalam sesi tersebut, siswa diajak melihat sebuah permasalahan dari berbagai sudut pandang, baik dari sisi korban, pelaku, maupun orang yang menyaksikan kejadian.
Diskusi tersebut sekaligus mendorong siswa untuk menentukan sikap yang tepat ketika menghadapi tindakan perundungan di lingkungan sekolah.
“Berarti kalau lihat teman dibully, jangan cuma diam, ya, Kak?” celetuk salah satu siswa dalam kelompok 2.
Pertanyaan sederhana tersebut menunjukkan bahwa materi yang diberikan mulai mendorong siswa untuk memahami bahwa bullying bukan hanya persoalan antara korban dan pelaku. Mereka yang menyaksikan juga memiliki peran untuk tidak membiarkan tindakan perundungan berlangsung dan dapat mencari bantuan dari pihak yang dipercaya.





