Setelah menyelesaikan diskusi bersama kelompok yang didampingi oleh kakak pendamping, perwakilan masing-masing kelompok maju untuk mempresentasikan hasil pembahasan. Sesi tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk menyampaikan pandangan sekaligus belajar mendengarkan perspektif teman-temannya.
Kegiatan “Teman Peduli” kemudian berlanjut pada aktivitas yang lebih personal. Para siswa diajak menuliskan perasaan yang mereka rasakan pada hari itu melalui sticky notes.
Aktivitas sederhana tersebut ternyata tidak selalu mudah dilakukan. “Perasaannya ditulis yang kayak gimana, Kak?” tanya seorang siswa ketika mulai berhadapan dengan secarik sticky note.
Pertanyaan tersebut menjadi gambaran bahwa mengungkapkan perasaan bukanlah sesuatu yang selalu mudah bagi anak-anak. Tidak semua emosi dapat langsung diterjemahkan menjadi kata-kata, terlebih bagi mereka yang belum terbiasa menceritakan apa yang dirasakan kepada orang lain.
Perlahan, para siswa mulai menuliskan perasaan masing-masing. Sebagian mungkin hanya menuliskan beberapa kata atau kalimat singkat. Namun, di balik tulisan sederhana tersebut terdapat cerita dan emosi yang tidak selalu mudah untuk disampaikan secara langsung.
Melalui aktivitas ini, “Teman Peduli” berupaya membangun pemahaman bahwa setiap perasaan memiliki nilai dan setiap cerita layak untuk didengarkan. Siswa juga diperkenalkan pada pentingnya mengenali emosi diri sendiri sekaligus menghargai perasaan orang lain.
Pada akhirnya, JAGAWANA 5.0 tidak hanya mengajak siswa mengenali apa itu bullying, tetapi juga menanamkan keberanian untuk bersuara dan kepedulian terhadap sesama. Pencegahan bullying tidak berhenti pada upaya menghentikan tindakan yang menyakiti, melainkan juga menciptakan lingkungan yang membuat setiap siswa merasa aman untuk bercerita dan mencari pertolongan.
Melalui kegiatan tersebut, BEM UNAIR berharap nilai-nilai empati dan kepedulian dapat terus tumbuh di lingkungan sekolah. Sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat bagi siswa untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang yang memungkinkan setiap anak merasa aman, didengar, dihargai, dan diterima.
Pesan yang dibawa “Teman Peduli” pun sederhana: tidak ada seorang pun yang seharusnya menghadapi perundungan atau menyimpan perasaannya seorang diri. Berani peduli, berani bersuara, dan berani menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi sesama.





