BERITASIBER.COM — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan teknologi hijau dan energi berkelanjutan melalui kolaborasi internasional bersama mitra strategis asal Taiwan.

Melalui forum konsorsium Taiwan-Indonesia Science Technology Innovation Centre (TI-STIC), ITS memperkuat kerja sama riset pengolahan sampah menjadi energi alternatif atau waste to energy guna menjawab tantangan krisis lingkungan dan kebutuhan energi bersih di Indonesia.

Kegiatan tersebut digelar di Auditorium Research Centre ITS, Surabaya, dan menjadi momentum penting dalam membangun sinergi antara dunia akademik, teknologi, dan industri. Dalam kolaborasi tersebut, ITS menggandeng National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) serta Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) untuk mengembangkan inovasi pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian ITS, Agus Muhamad Hatta, mengatakan bahwa persoalan sampah dan perubahan iklim kini menjadi tantangan global yang membutuhkan solusi konkret dan berkelanjutan. Menurutnya, peningkatan urbanisasi dan pertumbuhan populasi telah menyebabkan volume sampah terus meningkat setiap tahun.

“Selama ini limbah sering dipandang sebagai beban lingkungan. Padahal jika dikelola dengan pendekatan teknologi yang tepat, sampah memiliki nilai ekonomi dan dapat menjadi sumber energi alternatif yang mendukung transisi energi bersih,” ujar Agus dalam pemaparannya.

Ia menambahkan, ITS selama ini telah memiliki berbagai inovasi teknologi lingkungan yang telah diterapkan secara nyata. Salah satu proyek unggulan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) Benowo di Surabaya yang telah beroperasi sejak 2021 dan mampu membantu mengurangi volume sampah kota secara signifikan sekaligus menghasilkan energi listrik.

Selain itu, ITS juga mengembangkan teknologi biofuel berbasis limbah plastik. Inovasi yang dikembangkan oleh peneliti Departemen Kimia ITS, Hendro Juwono, tersebut memanfaatkan proses degradasi sampah plastik menggunakan biomassa untuk menghasilkan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2