Alumnus SMAN 2 Lumajang dan Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini memberikan contoh-contoh kecil yang terkadang diabaikan, seperti alat panahan harus dibongkar pasang di tempat latihan.
“Terkadang kita masih melihat ada atlet yang menenteng busur yang sudah terpasang ke tempat latihan. Kadang disertai anak panahnya di Quiver (tempat anak panah). Kita tidak menghendaki pemandangan yang demikian ada du Lumajang,” cetus Arief.
Arief juga menekankan soal safety dalam berpanah. “Ini masih dalam penilaian. Seperti bagaimana ketika atlet berada di garis tembak, dan pada saat yang bersamaan masih ada orang yang lalu lalang, di area pukul sepuluh hingga pukul dua. Soal-soal ini sedari dini sudah kami ajarkan,” ujar Arief.
Arief mengatakan banyak etika dan adab lainnya yang diajarkan sejak peserta baru mulai mengenal panahan. Evaluasi ini juga dilakukan untuk mengklasifikasikan atlet sesuai dengan kemampuannya.
“Nantinya menjadi patokan untuk turun di turnamen-turnamen di Indonesia,” papar Arief.
Dengan mengikuti evaluasi program pemanah pemula ini, Arief berharap para atlet bisa menyesuaikan diri ketika mengikuti lomba dimanapun.
“Kita memakai standar World Archery. Mau ikut lomba panahan di belahan dunia manapun, mereka tetap mengetahui aturannya,” ujarnya.
Klub Dzunnurain Archery berdiri sejak 2016 lalu. Markas klub ini berada Lapangan Panahan Terpadu di Jalur Lingkar Timur Lumajang. Dengan jumlah anggota lebih dari 100 orang ini, Klub DA sudah menorehkan sejumlah pretasi yang membanggakan nama Lumajang dan Jawa Timur. Baru-baru ini, sejumlah atlet pemula klub ini berhasil meraih emas di Grand Prix di Ciracas Jakarta.(Efendi)
>>> Klik berita lainnya di Google News BeritaSiber.Com





