“AI dapat digunakan sebagai alat bantu, tetapi ide, analisis, dan tanggung jawab ilmiah tetap harus berasal dari penulis. Mahasiswa harus tetap kritis dan memastikan keabsahan referensi yang digunakan,” tegasnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sementara itu, Dr. Muhamad Daut Siaglan mengajak mahasiswa agar tidak takut mempublikasikan ide-ide sederhana. Ia memperkenalkan konsep short communication sebagai salah satu bentuk publikasi ilmiah yang ringkas, namun berdampak besar.

“Temuan yang sederhana pun bisa sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Yang utama adalah kebaruan dan relevansinya. Jangan ragu untuk menulis dan membagikan gagasan,” katanya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Unika Santu Paulus, Dr. Maximus Tamur, menyampaikan bahwa kegiatan kuliah tamu ini merupakan bagian dari program strategis jangka panjang dalam membangun ekosistem riset di lingkungan kampus. Pihaknya telah merancang pembentukan kelas riset yang akan diikuti mahasiswa semester 4 hingga 7, dengan target menghasilkan publikasi pada jurnal nasional terindeks SINTA 1 sampai 4.

“Kami ingin mahasiswa terbiasa meneliti dan menulis sejak dini. Ini bukan sekadar tuntutan akademik, tetapi bekal penting untuk masa depan mereka,” ujarnya.

Antusiasme mahasiswa terlihat dari diskusi interaktif dan banyaknya pertanyaan yang diajukan. Kegiatan ini diharapkan mampu memotivasi mahasiswa untuk lebih percaya diri meneliti, menulis, dan berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, sekaligus membawa nama Unika Santu Paulus Ruteng ke kancah akademik nasional.(Safrin).

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2