Lebih jauh, Dr. Ati’ul berharap bahwa instrumen ini tidak hanya digunakan di lingkungan Universitas Muhammadiyah Lamongan, tetapi juga dapat diadopsi oleh Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, maupun lembaga pendidikan di tingkat kabupaten/kota, provinsi, bahkan secara nasional.
Menurut Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, SpA(K), staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS) sekaligus sebagai Promotor mengatakan, keberadaan instrumen kesiapan sekolah ini sangat penting, karena tidak semua anak usia sekolah secara otomatis siap untuk memasuki dunia pembelajaran formal.
“Setiap anak memiliki perkembangan fisik, kognitif, dan sosial emosional yang berbeda. Di negara lain, asesmen kesiapan sekolah sudah dilakukan sejak lama, namun tidak bisa serta-merta kita adopsi karena faktor budaya dan konteks sosial kita sangat berbeda,” ujar Prof Harsono.
Penelitian ini juga membuka peluang kolaborasi antara sektor pendidikan dan kesehatan anak, mengingat kesiapan sekolah adalah bagian integral dari tumbuh kembang anak secara keseluruhan.
Dengan adanya instrumen ini, diharapkan proses penerimaan peserta didik baru terutama di jenjang TK dan SD bisa dilakukan lebih terarah dan berbasis kebutuhan anak, bukan semata-mata usia.
Langkah inovatif ini menjadi bukti bahwa kontribusi ilmiah dari daerah seperti Lamongan dapat memberikan dampak luas bagi sistem pendidikan nasional.(Bs)





