“Kami ingin memastikan warga tetap terpenuhi kebutuhannya, baik logistik maupun layanan kesehatan. Ini menjadi perhatian utama kami,” tegas Pak Yes.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah berkoordinasi lintas sektor untuk menyepakati penambahan jadwal penanganan dan target percepatan agar dampak banjir tidak meluas ke wilayah lain.

Sementara itu, Kepala Desa Sukorejo, Heri Susanto, memaparkan bahwa banjir di wilayahnya berdampak cukup signifikan. Sedikitnya 135 hingga 150 rumah warga terendam dengan ketinggian air berkisar antara 20 hingga 40 sentimeter. Tak hanya permukiman, sekitar 290 hektare lahan pertanian dan pertambakan warga juga ikut tergenang.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Untuk jalan desa, total yang terdampak sekitar tiga kilometer, dan hampir dua kilometer di antaranya masih tergenang sampai sekarang,” ungkap Heri.

Ia menambahkan, sektor pertambakan menjadi salah satu yang paling terdampak secara ekonomi. Modal pengisian benih ikan rata-rata mencapai Rp5 juta per hektare, sehingga warga berupaya melakukan langkah mandiri dengan memasang jaring atau waring di sekitar tambak untuk mencegah ikan hanyut terbawa arus.

“Mudah-mudahan tidak sampai tenggelam total. Kalau sampai tenggelam, kerugian warga bisa jauh lebih besar,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Lamongan menegaskan akan terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan seluruh pihak terkait hingga kondisi benar-benar pulih. Dengan sinergi antara pemerintah, aparat desa, dan masyarakat, diharapkan penanganan banjir dapat berjalan efektif dan dampak yang ditimbulkan bisa diminimalisir.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2