BERITASIBER.COM | LAMONGAN – Pada tahun 2045, Indonesia akan mencapai usia ke-100, sebuah momentum yang sangat dinantikan untuk menjadi negara maju. Sementara itu, di tahun 2024 ini, kita memasuki puncak bonus demografi yang akan berlangsung hingga beberapa dekade ke depan.
Indonesia memiliki potensi luar biasa dengan lebih dari 60 persen penduduknya berada dalam kelompok usia produktif, yakni antara 15 hingga 64 tahun. Ini adalah peluang yang tidak boleh disia-siakan. Dengan angka tersebut, Indonesia seharusnya menjadi pusat kekuatan ekonomi dunia.
Bonus demografi ini menjadi landasan kuat bagi pertumbuhan ekonomi yang pesat. Dalam dua dekade mendatang, kita bisa membayangkan Indonesia menjadi negara dengan daya saing tinggi, mampu bersaing dengan negara-negara maju di Asia dan bahkan di dunia. Namun, bagaimana kita mengelola potensi ini?
Lulusan Pendidikan Minimal SMA/SMK/MA: Kunci Utama Menuju Indonesia Emas 2045
Salah satu tantangan besar untuk memanfaatkan bonus demografi adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). Pendidikan yang merata dan berkualitas menjadi hal yang tak terelakkan.
Indonesia saat ini masih memiliki kesenjangan besar dalam hal kualitas pendidikan, terutama antara daerah urban dan rural. Namun, pada tahun 2045, Indonesia diharapkan memiliki lulusan pendidikan minimal SMA/SMK/MA atau sederajat yang siap bersaing di pasar global.
Sebagai bagian dari langkah menuju Indonesia Emas 2045, Pemerintah Indonesia kini gencar mengimplementasikan program-program yang mendukung pendidikan vokasi, keterampilan teknis, dan penguatan kapasitas generasi muda.
Pendidikan yang mengutamakan kualitas dan keterampilan akan menjadi fondasi yang kokoh untuk Indonesia memasuki era industri 4.0 dan 5.0, serta dunia yang semakin digital. Untuk itu, sektor pendidikan tinggi akan memainkan peran kunci.
Peluang FEB UNISLA dalam Era Bonus Demografi dan Pendidikan Berkualitas
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Lamongan (FEB UNISLA) berada dalam posisi yang sangat strategis untuk menghadapai era bonus demografi ini. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, FEB UNISLA harus memanfaatkan peluang emas ini dengan terus berinovasi dalam hal kurikulum, fasilitas, dan kemitraan dengan dunia industri.
Pendidikan yang berbasis pada keterampilan praktis dan wawasan global akan membuat lulusan FEB UNISLA semakin unggul dan siap mengisi berbagai peluang di pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif.
FEB UNISLA memiliki peluang besar untuk mencetak calon pemimpin ekonomi masa depan yang tidak hanya paham teori, tetapi juga mahir dalam aplikasi nyata dunia bisnis dan ekonomi.
Dengan memperkuat program-program studi yang relevan dengan kebutuhan zaman, seperti ekonomi digital, kewirausahaan, dan manajemen berbasis teknologi, FEB UNISLA akan menjadi pusat pendidikan unggulan yang menghasilkan lulusan siap pakai.
Tidak hanya itu, dengan kolaborasi bersama berbagai perusahaan, FEB UNISLA dapat membuka kesempatan magang, penelitian, dan pengembangan karir untuk mahasiswa, memperkuat koneksi antara pendidikan dan industri.
Krisis Geopolitik Dunia: Tantangan dan Peluang bagi Indonesia dan FEB UNISLA
Namun, di balik potensi besar yang ada, Indonesia juga harus menghadapi tantangan besar berupa krisis geopolitik dunia yang semakin memanas. Ketegangan antara negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Rusia, serta pergeseran kekuatan ekonomi global, menjadi tantangan besar bagi negara berkembang seperti Indonesia.
Ketidakpastian ini akan memengaruhi stabilitas ekonomi global, perdagangan internasional, serta aliran investasi yang menjadi kunci untuk kemajuan ekonomi Indonesia.
Di tengah ketegangan geopolitik yang tak menentu, Indonesia harus beradaptasi dengan cepat dan cerdas. Di sinilah peran FEB UNISLA semakin penting.
Sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mempersiapkan mahasiswa untuk memahami dan mengelola dinamika ekonomi dunia, FEB UNISLA harus memperkuat kurikulum yang berorientasi pada pengembangan kemampuan analisis ekonomi global, strategi bisnis internasional, serta manajemen krisis ekonomi.





