Tradisi kerja keras masyarakat Glagah bisa terlihat jelas dalam pola hidup mereka, setelah menanam padi atau menebar benih ikan, mereka akan memanfaatkan waktu luang untuk berdagang di kota-kota besar seperti Gresik, Surabaya, bahkan Sidoarjo. Banyak di antara mereka yang menjalani usaha kuliner seperti soto, nasi goreng, tahu campur, tahu tek, hingga warung kopi, sebagai bentuk adaptasi dan ketangguhan ekonomi.
Uniknya, ikan lele, yang secara simbolis diasosiasikan dengan Mbah Ki Boyo Pati, menjadi representasi semangat hidup masyarakat Glagah: lincah, agresif, tahan banting, dan adaptif dalam berbagai situasi. Karena penghormatan yang begitu tinggi terhadap tokoh ini, sebagian warga bahkan menjadikan pantangan memakan ikan lele sebagai bentuk penghormatan spiritual terhadap sosok Mbah Ki Boyo Pati.
“Ikan lele bukan sekadar ikan, tapi simbol dari perjuangan dan filosofi hidup masyarakat Glagah. Mbah Ki Boyo Pati telah memberikan teladan bagaimana menjadi manusia yang tangguh dan tetap menjaga nilai-nilai agama dalam setiap aspek kehidupan,” ungkapnya.
Ia berharap, kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi bisa dilaksanakan secara berkelanjutan. Tujuannya adalah agar generasi muda tidak kehilangan akar sejarahnya, mengenal tokoh-tokoh besar di wilayahnya sendiri, dan menjadikan nilai-nilai perjuangan itu sebagai bekal dalam membangun masa depan.
“Semoga kegiatan napak tilas ini membawa spirit baru bagi masyarakat Glagah dengan kehidupan yang damai, rukun, menjunjung tinggi etos kerja, serta berlandaskan nilai-nilai Islam. Dan semoga Mbah Ki Boyo Pati terus menjadi cahaya penuntun dalam perjalanan peradaban masyarakat Glagah yang sejahtera,” tutup Sekda Lamongan.(Bs)





