Salah satu peserta, Siti, pemilik usaha keripik khas Lamongan, mengaku mendapatkan banyak manfaat dari kegiatan ini. Selama ini, ia hanya mencatat pemasukan dan pengeluaran secara sederhana tanpa perhitungan yang jelas.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Selama ini saya cuma nyatet duit masuk dan keluar di buku tulis. Kalau ditanya untung berapa, ya kira-kira saja. Di pelatihan ini saya diajari bikin laporan laba rugi yang rapi, jadi bisa tahu persis apakah usaha saya benar-benar untung dan di mana pos pengeluaran terbesar,” ujarnya.

Selain penyusunan laporan keuangan, peserta juga diperkenalkan pada analisis rasio keuangan sederhana, seperti rasio keuntungan dan efisiensi biaya. Materi ini dinilai penting agar pelaku UMKM tidak hanya fokus pada penjualan, tetapi juga mampu mengevaluasi kinerja usaha secara berkala.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dengan memahami rasio keuangan, UMKM diharapkan lebih siap dalam menyusun strategi harga, mengendalikan biaya, serta merencanakan ekspansi usaha.

Pendampingan ini juga diarahkan untuk meningkatkan kesiapan UMKM dalam mengakses permodalan dari lembaga keuangan. Laporan keuangan yang rapi dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi salah satu syarat utama dalam pengajuan kredit usaha. Melalui kegiatan ini, para pelaku UMKM didorong untuk lebih percaya diri berinteraksi dengan perbankan maupun lembaga pembiayaan lainnya.

Secara umum, kegiatan pendampingan ini mendapat respons positif dari para peserta. Mereka berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan materi lanjutan, seperti perencanaan keuangan jangka panjang, penentuan harga berbasis biaya, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam pencatatan keuangan.

Dengan pengelolaan keuangan yang lebih baik, UMKM sektor makanan di Kecamatan Lamongan diharapkan mampu meningkatkan daya saing, memperluas pasar, dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2