BERITASIBER.COM | LAMONGAN — Upaya peningkatan kualitas tata kelola dan transparansi lembaga ekonomi lokal di Kabupaten Lamongan kembali menunjukkan geliat positif. Puluhan pengelola Koperasi dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) se-Kabupaten Lamongan berbondong-bondong mengikuti Pelatihan Penyusunan Laporan Keuangan Berkelanjutan (Sustainability Reporting).
Sebuah program strategis yang digelar oleh Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian Kabupaten Lamongan. Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini diselenggarakan di Gedung Pertemuan Pemkab Lamongan dan menghadirkan pemateri berpengalaman, Bu Titin, yang dikenal sebagai praktisi sekaligus konsultan dalam bidang pelaporan keuangan dan keberlanjutan.
Kegiatan ini menjadi sorotan karena relevansinya dengan tuntutan global yang semakin menekankan pentingnya keseimbangan antara keuntungan finansial (profit), tanggung jawab sosial (people), dan kelestarian lingkungan (planet).
Dalam konteks inilah, Laporan Keuangan Berkelanjutan memainkan peran krusial. Ia bukan sekadar dokumen administratif, melainkan instrumen strategis untuk menggambarkan komitmen sebuah organisasi terhadap praktik bisnis yang beretika, inklusif, dan ramah lingkungan. Lewat laporan berkelanjutan, sebuah lembaga ekonomi dapat menunjukkan sejauh mana kontribusinya terhadap capaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Dalam sambutan pembukaannya, Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian Kabupaten Lamongan menegaskan pentingnya paradigma baru dalam pengelolaan usaha.
“Di masa depan, kredibilitas dan daya tarik investasi pada sebuah koperasi atau BUMDes tidak lagi hanya dilihat dari laba-rugi. Stakeholder, termasuk masyarakat, anggota, dan investor, ingin tahu bagaimana usaha ini menjaga lingkungan, memberdayakan komunitas, dan menerapkan tata kelola yang baik. Sustainability Reporting adalah jawabannya,” ujarnya penuh keyakinan, Selasa (7/11/2023).
Pernyataan ini disambut dengan antusias oleh seluruh peserta yang menyadari bahwa era digital dan pasar global semakin menuntut transparansi dan akuntabilitas lebih tinggi.
Dalam sesi materi yang disampaikan oleh Titin, para peserta ditantang untuk memahami secara mendalam konsep ESG (Environmental, Social, and Governance) yang menjadi dasar dari penyusunan laporan keberlanjutan.
Titin menjelaskan bahwa praktik pelaporan berkelanjutan bukan hanya kebutuhan lembaga besar atau korporasi skala nasional, tetapi juga sangat relevan bagi Koperasi dan BUMDes yang selama ini menjadi penggerak ekonomi desa.
“Koperasi dan BUMDes memiliki peran penting sebagai pilar ekonomi kerakyatan. Dengan menerapkan Sustainability Reporting, lembaga-lembaga ini dapat menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan jangka panjang yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungan,” jelasnya.
Para peserta yang hadir terdiri dari manajer, pengawas, bendahara, serta sejumlah pengelola operasional lainnya. Mereka diberi kesempatan untuk berlatih secara langsung, mulai dari mengidentifikasi isu keberlanjutan yang terkait dengan usaha masing-masing, mengumpulkan data non-keuangan, hingga menyusunnya menjadi laporan utuh yang komunikatif dan mudah dipahami.
Berbagai contoh kasus dipaparkan untuk memudahkan peserta memahami praktik terbaik dalam penyusunan laporan. Data seperti tingkat pengurangan limbah usaha, implementasi program pemberdayaan perempuan, pola penggunaan energi ramah lingkungan, hingga transparansi tata kelola keputusan menjadi bahan latihan bagi para peserta.





