Unsur sisik ikan dan lekuk tubuhnya diolah menjadi detail ornamen artistik yang menghiasi kostum, menciptakan tampilan dinamis yang merefleksikan semangat masyarakat pesisir yang penuh daya juang dan tetap menjunjung tinggi warisan budaya lokal.
Selain kostum maskot, Disparbud Lamongan juga menampilkan busana pengantin khas Lamongan yang sarat akan makna filosofis. Dalam bahasa lokal, “bek” berarti “kebak” (penuh) dan “asri” berarti indah, sehingga busana ini dimaknai sebagai “kebak kaendahan” atau penuh keindahan.
Desain dan ornamen pada busana tersebut disusun dengan rapi, elegan, dan mewah, menjadikannya tampak seperti busana raja dan ratu, yang tidak hanya memperlihatkan keanggunan tetapi juga menggambarkan ketinggian nilai budaya dan adat istiadat Lamongan.
Dalam karnaval ini, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan juga menampilkan Duta Wisata Cilik, sebagai bagian dari program regenerasi sumber daya manusia sejak dini.
“Melalui pembinaan program Duwis dan Yak Yuk Lamongan, anak-anak dibekali pengetahuan tentang pariwisata, seni, dan budaya, agar kelak mampu menjadi ujung tombak promosi wisata Lamongan di tingkat lokal maupun nasional,” ujarnya.
Penampilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan dalam carnival ini bukan hanya sekadar pertunjukan estetika, tetapi juga strategi branding daerah.
Melalui kekayaan budaya seperti kostum bertema ikan, busana pengantin khas, dan duta wisata cilik, Lamongan menunjukkan bahwa kabupaten ini memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata budaya, kuliner, dan edukasi.(Bs).





