Apakah hukum sedang ditegakkan, atau sekadar diputar seperti meteran taksi?
Solar subsidi berasal dari uang negara. Dari pajak rakyat. Dari jerih payah mereka yang membeli bensin nonsubsidi sambil mengelus dada. Namun ironisnya, yang menikmati justru mereka yang paling lihai memelintir aturan.
Solar itu lalu dijual kembali, dicampur, diperdagangkan, bahkan dikirim keluar daerah. Negara rugi, nelayan gigit jari, mafia tersenyum lebar dan jerigen kembali mengantre.
Di negeri ini, jerigen lebih bebas daripada nelayan. Truk lebih berani daripada aparat. Dan kertas rekom lebih dihormati daripada undang-undang.
Maka jangan heran jika mafia solar tumbuh subur. Mereka hidup di ekosistem yang sempurna:
pengawasan longgar, penindakan setengah hati, dan keheningan yang terlalu lama.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, jangan salahkan publik bila suatu hari nanti mereka bertanya sinis:
“Yang disubsidi itu solar, atau kejahatannya?”
Karena di negeri solar ini, yang kehabisan bukan cuma BBM tapi juga kepercayaan.






