Eko menambahkan, peran keluarga dan lingkungan sangat penting dalam mendampingi anak muda agar terhindar dari masalah.
“Saya kira namanya anak masih membutuhkan pembelajaran dari semua pihak. Sehingga jika anak ini ada persoalan atau sesuatu, ada yang bisa dimintai perlindungan curahan hati. Karena kadang – kadang kebutuhan untuk mencari solusi, dan kita ini harus memberikan perhatian,” pesannya.
Seperti diketahui peristiwa sadis ini bermula dari cekcok antara pelaku dan korban di kos mereka. Pelaku dan korban merupakan pasangan siri.
Kapolres Mojokerto, AKBP Ihram Kustarto, menjelaskan dalam konferensi pers di Mapolres Mojokerto, pada Senin (8/9/2025), bahwa pelaku yang sehari – hari bekerja sebagai pengemudi ojek online pulang larut malam, sekitar pukul 01.00 pada Minggu (31/8/2025).
AM harus menunggu di luar selama satu jam karena pintu dikunci oleh korban. Saat pintu akhirnya dibuka, korban dalam kondisi marah dan melontarkan kata – kata kasar.
“Sementara tersangka juga kewalahan dengan tuntutan ekonomi korban yang meminta gaya hidup dan sebagainya,” jelas Kapolres Mojokerto AKBP Ihram.
Adu mulut ini memuncak. Korban naik ke lantai dua, diikuti oleh pelaku yang mengambil pisau dari dapur. Pelaku lalu menghampiri korban dan menusuk leher belakang sisi kanan korban hingga tewas. Setelah itu, pelaku memutilasi tubuh korban di kamar mandi, memisahkan bagian daging dan tulang menjadi 65 potongan.
Pada subuh Minggu (31/8), pelaku memasukkan potongan tubuh tersebut ke dalam tas ransel dan membuangnya di jurang Pacet. Hingga akhirnya, potongan tubuh korban ditemukan oleh seorang pencari rumput pada Sabtu (6/9). Saat ini, pelaku AM telah ditahan di Mapolres Mojokerto untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.(Bs).





