Selain sektor pertanian, perhatian juga difokuskan pada pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat. Kementerian PU mendistribusikan air bersih menggunakan armada truk tangki ke wilayah-wilayah terdampak, membangun sumur bor baru, memperluas jaringan perpipaan, serta melakukan kajian terhadap potensi sumber air alternatif yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Untuk mendukung percepatan penanganan di lapangan, Kementerian PU turut menyiagakan berbagai peralatan seperti pompa bergerak, kendaraan tangki air, serta mengoptimalkan peran balai-balai Kementerian PU di seluruh Indonesia agar dapat merespons kebutuhan masyarakat secara cepat sesuai kondisi di masing-masing daerah.
Di samping langkah darurat, pemerintah juga menerapkan strategi pengelolaan sumber daya air secara adaptif melalui pengaturan operasi bendungan dan jaringan irigasi. Pemantauan kondisi tampungan air dilakukan secara berkala agar distribusi air baku, kebutuhan pertanian, serta kebutuhan masyarakat tetap terjaga selama musim kemarau.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Kementerian PU juga memanfaatkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan potensi hujan di wilayah tertentu. Salah satu pelaksanaan OMC telah dilakukan di kawasan Bendungan Jatiluhur pada 30 Juli 2026 sebagai langkah menjaga ketersediaan air di wilayah layanan bendungan.
Program penanganan kekeringan ini menjadi bagian dari komitmen Kementerian PU dalam mendukung visi pembangunan infrastruktur nasional yang berorientasi pada ketahanan air, ketahanan pangan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan data Kementerian PU, dari total 492 lokasi yang ditangani, sebanyak 105 lokasi merupakan kawasan pertanian yang berhasil menyelamatkan sekitar 22.210 hektare lahan sawah. Sementara 387 lokasi lainnya merupakan kawasan permukiman dengan cakupan pelayanan air bersih bagi 155.228 jiwa.
Dari seluruh lokasi tersebut, 442 titik telah selesai ditangani, sedangkan 50 lokasi masih dalam proses penanganan. Di Pulau Jawa menjadi wilayah dengan penanganan terbanyak, yakni mencapai 305 lokasi, disusul Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga kawasan Maluku dan Papua.
Kementerian PU memastikan langkah mitigasi akan terus diperkuat seiring berlangsungnya musim kemarau. Dengan dukungan infrastruktur sumber daya air, optimalisasi bendungan, distribusi air bersih, serta koordinasi lintas sektor, pemerintah berharap dampak El Nino dapat ditekan sehingga masyarakat tetap memperoleh akses air bersih dan produktivitas pertanian nasional tetap terjaga di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.





