BERITASIBER.COM – Polemik dugaan ketidakadilan dalam proses pengambilan ijazah di lingkungan Universitas Bahaudin Mudhary kembali memanas. Kali ini, dua mahasiswa berinisial F dan W mengaku dapat mengambil ijazah mereka meskipun masih memiliki tanggungan administrasi kepada kampus.
Pengakuan tersebut disampaikan secara detail kepada redaksi dan semakin memperkuat dugaan publik bahwa terdapat perlakuan berbeda terhadap mahasiswa tertentu dalam pelayanan akademik di kampus tersebut.
Menurut keterangan keduanya, proses pengambilan ijazah tetap dapat dilakukan karena adanya komunikasi yang baik dengan pihak internal kampus, termasuk disebut-sebut memiliki kedekatan dengan rektor.
“Saya masih ada tanggungan waktu itu, tapi tetap bisa ambil ijazah karena komunikasi baik,” ujar salah satu mahasiswa kepada redaksi.
Mahasiswa lainnya juga menyampaikan pengakuan serupa. Ia mengaku tidak mengalami kendala berarti saat proses pengambilan ijazah meskipun administrasinya belum sepenuhnya tuntas.
Pengakuan dua mahasiswa tersebut kini menjadi sorotan publik lantaran bertolak belakang dengan keterangan sejumlah mahasiswa lain yang mengaku ijazahnya ditahan karena alasan administrasi.
Kondisi itu memunculkan dugaan adanya standar pelayanan yang tidak diterapkan secara sama kepada seluruh mahasiswa. Publik mulai mempertanyakan apakah kebijakan kampus benar-benar berbasis aturan, atau justru dipengaruhi kedekatan komunikasi dengan pimpinan kampus.





