“Kami tidak pernah diajak dalam rapat pembentukan tim pelaksana. Tiba-tiba proyek sudah berjalan, bahkan tukangnya pun banyak dari luar desa,” ungkap Arie.
Padahal, menurutnya, konsep swakelola seharusnya melibatkan masyarakat sekitar untuk memastikan proyek berjalan sesuai aturan dan kebutuhan lokal.
Hingga berita ini diterbitkan, Dinas Pendidikan Kabupaten Bulukumba belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan lemahnya kualitas pembangunan SDN 89 Batukaropa.
Warga meminta pemerintah daerah segera melakukan evaluasi dan audit teknis terhadap proyek tersebut. Mereka juga memperingatkan akan membawa masalah ini ke Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Kejati Sulsel) jika tidak ada tindak lanjut.
“Kalau tidak segera diperiksa, kami akan laporkan ke Kejati Sulsel. Anggarannya besar, jadi jangan main-main dengan pembangunan sekolah,” tegasnya.(Arie).





