“Boleh mengenal budaya luar negeri, tapi jangan sampai jati diri dan budaya lokal kita hilang. Melalui dongeng, kita tanamkan nilai sosial dan budaya lokal sejak dini agar anak-anak memiliki akar yang kuat dan tidak mengalami gesekan budaya di masa depan,” tegasnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk menghidupkan kembali budaya literasi keluarga ini tidak berhenti pada seremoni saja. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya telah diperintahkan untuk menggelar lomba mendongeng yang melibatkan kolaborasi langsung antara orang tua dan anak.

Kepala Dispusip Kota Surabaya, Yusuf Masruh, menjelaskan bahwa program ini akan diperluas ke berbagai wilayah kecamatan dan kelurahan. Tujuannya adalah untuk memperkaya kosakata anak serta memudahkan mereka memahami teks dan numerik (literasi dasar) sejak usia PAUD hingga SD.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Harapan kami, orang tua menyadari bahwa suara mereka saat bercerita jauh lebih berharga bagi perkembangan kognitif anak daripada tontonan di layar gawai. Kegiatan ini menjadi awal untuk meningkatkan literasi di wilayah-wilayah,” kata Yusuf.

Menutup kegiatan tersebut, Cak Eri memberikan pesan menyentuh bagi seluruh orang tua di Surabaya mengenai batasan teknologi dalam pengasuhan.

“Semoga mendongeng bisa menggantikan dominasi gawai. Sampai kapanpun, peran orang tua, sentuhan, dan bimbingan langsung tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun,” pungkasnya.

Dengan gerakan CERIA ini, Surabaya bertekad menjadi kota yang tidak hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga unggul dalam kualitas karakter manusianya sejak dari dalam rumah.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2