“Event ini menjadi panggung besar bagi seniman lokal, generasi muda, dan pelaku ekonomi kreatif untuk mengekspresikan karya. Kami ingin budaya Banyuwangi terus tumbuh, bukan sekadar dikenang,” katanya.
Sejumlah event unggulan telah disiapkan, di antaranya Seblang Olehsari pada 23–29 Maret, Kebo-Keboan Alasmalang pada 28 Juni, Petik Laut Muncar pada 10 Juli, hingga Gandrung Sewu yang dijadwalkan berlangsung 24 Oktober 2026.
Tak hanya seni dan budaya, Banyuwangi Attractions juga menghadirkan berbagai kompetisi olahraga untuk memperluas segmen wisatawan. Pecinta olahraga ekstrem akan dimanjakan dengan Banyuwangi BMX Super Cross pada 27 Juni serta Banyuwangi Ijen Geopark Downhill pada 19–20 September. Sementara penggemar lari dapat mengikuti Ijen Green Run/Trail 2026 yang digelar 12 September dengan lintasan alam pegunungan yang eksotis.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono, menyebut Banyuwangi Attractions sebagai instrumen strategis pembangunan daerah. Menurutnya, kalender event ini terbukti efektif menggerakkan sektor ekonomi, memperkuat promosi daerah, sekaligus meningkatkan partisipasi publik.
“Kami ingin menjadikan budaya dan olahraga sebagai pengungkit pembangunan. Ketika tradisi dirawat dan lingkungan dijaga, maka manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.
Melalui Banyuwangi Attractions 2026, Banyuwangi menegaskan posisinya sebagai daerah yang konsisten menjadikan budaya sebagai fondasi utama pembangunan, sekaligus motor penggerak pariwisata berkelanjutan.






