“Kami mendukung penuh penguatan P4S sebagai motor penggerak inovasi. Petani kita di Lamongan memiliki semangat luar biasa. Jika semangat ini dibarengi dengan pertukaran data, metode tanam, dan solusi teknologi antarpetani melalui P4S, maka produktivitas akan melompat lebih jauh,” ungkap Nalikan.
Nalikan juga memaparkan visi tentang keterkaitan antarkomoditas daerah. Ia mencontohkan, Lamongan yang memiliki keunggulan produksi padi harus disinergikan dengan daerah lain yang menjadi sentra hortikultura. Dengan jejaring yang terbangun kuat melalui P4S, pemasaran hasil panen tidak lagi terpusat pada satu rantai yang panjang, melainkan lebih efisien dan menguntungkan petani.
Modernisasi pertanian yang didorong melalui P4S juga dipandang sebagai solusi nyata dalam menjawab tantangan regenerasi petani. Dengan pemanfaatan teknologi, proses pengolahan lahan hingga panen menjadi jauh lebih efisien, hemat tenaga kerja, dan lebih terukur. Hal ini secara langsung meningkatkan daya tarik sektor pertanian bagi generasi muda.
Pemanfaatan alat modern dan manajemen pertanian berbasis data yang diusung P4S diharapkan dapat mengubah wajah pertanian Jawa Timur menjadi sektor yang lebih profesional dan menjanjikan secara ekonomi. Melalui pertemuan di Lamongan ini, P4S Jawa Timur berkomitmen untuk terus meningkatkan frekuensi interaksi antarpetani, memastikan bahwa setiap inovasi yang ditemukan di satu wilayah dapat segera direplikasi di wilayah lain demi kemajuan bersama.
Dengan penguatan jejaring yang solid ini, P4S tidak lagi sekadar pusat pelatihan, melainkan telah bertransformasi menjadi pusat inkubasi bisnis pertanian modern yang siap membawa Jawa Timur sebagai tulang punggung ketahanan pangan nasional yang tangguh dan adaptif terhadap zaman.





