BERITASIBER.COM | LAMONGAN – Krisis banjir akibat luapan Sungai Bengawan Jero di Kabupaten Lamongan kian memprihatinkan. Hingga memasuki pekan kedua Januari 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamongan mencatat lebih dari 31.000 hektare lahan produktif yang terdiri dari sawah dan tambak di lima kecamatan dilaporkan terendam air.
Kondisi ini mengancam ketahanan pangan daerah dan memicu kerugian ekonomi hingga miliaran rupiah.
Banjir yang bermula sejak akhir tahun 2025 ini belum menunjukkan tanda-tanda surut yang signifikan. Lima wilayah kecamatan yang menjadi terdampak utama adalah Kalitengah, Turi, Karangbinangun, Deket, dan Glagah. Sebagian besar lahan tersebut merupakan tumpuan hidup warga yang menggantungkan ekonomi pada sektor pertanian padi dan budidaya tambak.
Data terbaru menunjukkan bahwa Kecamatan Kalitengah menjadi wilayah yang paling babak belur diterjang banjir. Luasan lahan sawah dan tambak yang terendam di wilayah ini mencapai angka fantastis, yakni 14.931 hektare. Desa-desa seperti Pucangro, Bojoasri, dan Jelakcatur dilaporkan mengalami genangan air tertinggi, yang membuat aktivitas pertanian lumpuh total.
Sementara itu, di Kecamatan Deket, luasan lahan terdampak tercatat sekitar 7.190 hektare. Meski secara luasan berada di bawah Kalitengah, estimasi kerugian di wilayah ini sangat tinggi, mencapai Rp3,4 miliar. Hal ini disebabkan oleh kerusakan pada sawah produktif di Desa Weduni, Sidomulyo, dan Laladan yang siap panen namun justru terendam air.
Di wilayah lain, Kecamatan Turi mencatatkan 6.270 hektare lahan terendam, disusul Karangbinangun seluas 2.951 hektare, dan Kecamatan Glagah yang tercatat paling minim dampak dengan luasan 137 hektare.





