“Inisiatif PWI Lamongan ini luar biasa. Kontes ini menjadi wadah edukasi sekaligus promosi. Kami akan mengkaji agar ‘Kolela’ bisa menjadi bagian dari event tahunan kabupaten, sehingga Lamongan semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat lele nasional,” tutur Pak Yes.
Bupati menambahkan, karakter ikan lele yang ulet dan tahan banting adalah cermin etos kerja masyarakat Lamongan. Dengan adanya kontes rutin, standarisasi kualitas lele Lamongan diharapkan dapat terbentuk, sehingga mampu menembus pasar industri pengolahan yang lebih besar.
Dalam edisi perdana ini, dewan juri menetapkan kriteria penilaian yang ketat, mulai dari bobot, kesehatan fisik, hingga proporsi tubuh ikan. Hasilnya, Toni dari Kecamatan Plosowahyu berhasil mengukir sejarah sebagai Juara I dengan koleksi lele raksasa seberat 10,220 kg.
Posisi Juara II ditempati oleh Panji dari Sugio dengan berat 9,975 kg, disusul oleh Ahmad Ihsan dari Mantup di posisi Juara III dengan catatan 7,575 kg. Kemenangan ini diharapkan menjadi motivasi bagi pembudidaya lain di seluruh kecamatan untuk terus mengembangkan teknik budidaya yang lebih efektif.
Penutupan rangkaian HPN 2026 ini diakhiri dengan sesi awarding bagi para pemenang dan tokoh-tokoh inspiratif daerah. PWI Lamongan menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi mitra kritis sekaligus strategis bagi pemerintah dalam mengawal isu-isu pembangunan ekonomi berbasis masyarakat.
“Melalui kontes ini, kami ingin menitipkan pesan kepada generasi muda bahwa menjadi pembudidaya lele atau pengusaha kuliner adalah profesi yang membanggakan dan memiliki prospek cerah. Mari kita jaga warisan ekonomi ini bersama-sama,” pungkas Kadam Mustoko.





