Ferry Frais menambahkan bahwa ‘jagonya’ tidak berhenti sebagai sosok yang dekat wong cilik, sekalipun tidak dalam proses politik.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Coba kita jujur-jujuran lihat sepak terjang ning Lia. Ini beda dengan politisi kebanyakan, yang hanya turun saat mau kampanye. Ning Lia beda. Sebelum maju kandidat cawawali, ning Lia sudah dekat dengan masyarakat. Contoh tahun 2018 dan 2019, beliau tidak caleg, tapi ngopen alias momong relawan pilgub dan pilpres,” ungkapnya

“Kemudian pada 2021 dan 2022 saat rekom Pilwali tidak didapat, ning Lia tetap turun ke masyarakat, bahkan kalau orang ngomong HKTI, pasti mindsetnya ke ning Lia. Jadi kalau sekarang ning Lia dan relawan masih memilih turun ke masyarakat, itu karena memang asli pribadinya wong sederhana dan merakyat. Memang ning Lia turunane wong apik, jadi memang apike asli,” imbuhnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Lia Istifhama sendiri, sebelumnya meraih survey urutan kedua dalam survey DPD yang dilakukan ARCI (Accurate Research and Consulting Indonesia).

“Kami telah melakukan survey secara tatap muka selama 4 hingga 15 Juli 2024 kepada 1250 responden yang tersebar dari 38 Kabupaten Kota se Jawa Timur, baik survei tentang Pilpres, Partai Politik, maupun DPD RI. Dan hasilnya, terkuat memang Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti, disusul pendatang baru ning Lia Istifhama,” jelas Direktur ARCI Baihaki Sirajt (01/08) saat itu.

Ditanya lebih lanjut mengapa kehadiran ning Lia mampu menduduki runner up, Baihaki menjelaskan latar belakang dan penampilan dari new comer tersebut.

“Ning Lia ini, selain memang keponakan Ibu Khofifah dan juga putri ulama KH Masykur Hasyim, sudah masif dikenal sebagai aktivis perempuan, aktivis sosial di tengah masyarakat. Selain itu, ia dikenal memiliki paras cantik sehingga banyak responden yang menyebutnya sebagai calon DPD tercantik. Sekalipun, ning Lia jika memang ingin menjadi pemenang, tentu tetap harus bekerja keras karena tahapan pemilu masih panjang,” tandasnya.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2