Sebagian peserta bahkan mulai menunjukkan hasil kreativitas mereka sejak hari pertama. Beberapa produk buatan tangan seperti bros motif bunga, gantungan kunci lucu, dan tempat tisu dari kain perca dipamerkan di akhir sesi pelatihan. Produk‑produk tersebut sontak menarik perhatian, dan sebagian langsung dibeli oleh sesama peserta.
Kegembiraan terpancar dari wajah mereka bukan hanya karena berhasil membuat barang indah, tetapi karena menyadari adanya peluang usaha nyata di balik kegiatan ini.
Kepala Desa Sarirejo, yang turut hadir dalam kegiatan penutupan, menyampaikan apresiasi tinggi kepada PKK dan narasumber atas terselenggaranya pelatihan tersebut. Ia menilai kegiatan seperti ini sangat relevan dengan semangat pembangunan desa berbasis pemberdayaan masyarakat.
“Pemerintah desa siap mendukung inisiatif PKK dalam mengembangkan kreativitas lokal. Ke depan, kami berharap produk hasil pelatihan ini bisa dipasarkan melalui BUMDes atau mengikuti pameran kerajinan daerah,” katanya.
Dr. Fitri Nurjannah dalam sesi penutup menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan melalui kegiatan produktif seperti ini dapat menjadi fondasi ekonomi yang kuat di tingkat keluarga. Ia juga mengingatkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa, penggerak PKK, dan lembaga pendidikan untuk menjaga keberlanjutan program.
“Kunci sukses pemberdayaan ada pada pendampingan berkelanjutan. Setelah pelatihan, perlu ada forum komunikasi atau kelompok usaha bersama agar ibu‑ibu bisa saling bertukar ide dan semangat,” tutur Fitri.
Pelatihan ini juga membuka pandangan baru bagi para peserta tentang pentingnya memanfaatkan waktu secara produktif. Banyak dari mereka yang mengaku selama ini tidak menyadari bahwa kegiatan sederhana seperti membuat kerajinan bisa menghasilkan tambahan penghasilan.
“Saya jadi semangat, ternyata bisa membuat sesuatu yang laku dijual dari bahan seadanya,” ungkap salah satu peserta pelatihan dengan antusias.
Semangat kolektif yang tumbuh dari kegiatan ini menjadi bukti bahwa pemberdayaan perempuan tidak hanya soal pelatihan keterampilan, tetapi juga tentang memupuk rasa percaya diri dan kesadaran akan potensi diri. Desa Sarirejo kini mulai menapaki langkah baru sebagai komunitas kreatif yang mengedepankan kolaborasi, inovasi, dan kemandirian ekonomi.
Melalui kegiatan ini, PKK Desa Sarirejo membuktikan bahwa ketika perempuan desa diberi ruang, pengetahuan, dan dukungan, mereka mampu menjadi motor penggerak perubahan.
Kerajinan pernak‑pernik yang semula hanya menjadi kegiatan rekreatif, kini menjelma sebagai simbol semangat wirausaha dan pemberdayaan yang nyata bagi masyarakat desa.





