Untuk jenis sayuran yang ditanam di kebun ini ada beberapa jenis. Di antaranya ada kangkung, bayam hijau, bayam merah, sawi lokal dan Thailand, selada, pookcay serta seledri. Ada 9 jenis sayuran.
Berkat keuletan yang dilakukan pasutri ini, kini produksi sayur hidroponik milik mereka mampu menembus pangsa supermarket dan beberapa daerah yang ada di Jawa Timur dengan omzetnya mencapai belasan juta rupiah tiap bulannya.
Untuk proses mulai dari pembibitan hingga siap panen, rinci Helmi, sayuran hidroponik ini hanya memerlukan waktu selama enam minggu saja. Selain bisa bertahan selama satu minggu, sayuran hidroponik ini juga tanpa menggunakan pestisida sehingga aman untuk di konsumsi.
Permintaan sayur hidroponik mereka mulai naik sejak pandemi COVID-19 hingga sekarang. Beberapa daerah yang sudah merasakan sayur hidroponik pasutri asal Lamongan ini di antaranya adalah Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Gresik dan toko modern Surabaya.
Untuk memenuhi permintaan pasar, Hilmi menggandeng 4 mitra yang kesemuanya ada di wilayah Lamongan karena tidak ingin mengecewakan konsumen.
“Konsumen mengambil sendiri sayurnya ke rumah sementara istri saya menawarkan sayur hidroponik ini melalui sosial media,” jelasnya.





