“Teruslah berkarya dan tunjukkan bahwa anak muda Pematangsiantar bangga dengan budayanya. Ini adalah bagian dari upaya kita mewujudkan Pematangsiantar yang cerdas, sehat, kreatif, dan selaras,” tambahnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sementara itu, mewakili penatua adat Simalungun, Muhammad Fikri Fanani Damanik, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai pagelaran ini sebagai bentuk nyata dalam menjaga dan melestarikan budaya dari berbagai etnis yang ada di Pematangsiantar.

Menurutnya, pelaksanaan kegiatan di lokasi bersejarah Monumen Raja Sang Naualuh Damanik memiliki makna tersendiri, sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan tokoh tersebut dalam bidang budaya dan pendidikan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kepala Bidang Pendidikan Non Formal dan Kebudayaan Dinas Pendidikan Kota Pematangsiantar, Fakhrudin Sagala, dalam laporannya menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai budaya, memperkuat kearifan lokal, serta menanamkan nilai Profil Pelajar Pancasila kepada generasi muda.

Pagelaran tersebut menampilkan 10 tarian dari berbagai etnis yang diperagakan oleh siswa-siswi SMP negeri dan swasta di Kota Pematangsiantar. Keberagaman penampilan ini menjadi cerminan nyata kekayaan budaya yang dimiliki kota tersebut.

Acara pembukaan semakin semarak dengan penyambutan tarian Tortor Sombah oleh siswa SMP Negeri 1 Pematangsiantar, serta penyerahan cenderamata oleh Wali Kota kepada perwakilan penatua adat dari berbagai etnis.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai toleransi dan persatuan antar etnis di Kota Pematangsiantar semakin kuat. Selain itu, seni budaya diharapkan mampu menjadi motor penggerak sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah perkembangan zaman.(Pirhot Nababan).

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2