“Peradaban dunia selalu diawali dari sungai karena kehidupan berpusat di sana. Jika kita tidak menjaganya bersama, ancaman kekeringan dan kerusakan ekologis nyata di depan mata. Kehadiran bendungan saat ini memberikan berkah besar bagi sektor pertanian, sehingga merawat Bengawan Solo adalah harga mati,” tegas pejabat yang akrab disapa Pak Asep ini.

Sementara itu, Ketua Kompilasi Sekber Jokokalibe BBWS Solo Wilayah Hilir, Atekan Andriono, menyambut positif lahirnya Sabhyanadipala. Kehadiran wadah baru ini diyakini mampu memperkuat jejaring konservasi di kawasan hilir, yang membentang dari Bojonegoro, Tuban, Lamongan, hingga Gresik.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ia juga menekankan pentingnya penyelesaian setiap persoalan lingkungan melalui jalur koordinasi yang konstruktif dan kolaboratif bersama pemerintah, selaras dengan semangat Taubatan Ekologis yang digaungkan Kementerian Lingkungan Hidup.

Dukungan serupa turut disuarakan oleh Anggota DPRD Tuban, Tia Antika Pramesti. Politisi yang akrab disapa Mbak Tia ini memuji langkah berani warga Tuban dalam membentengi ekologi sekaligus merawat jejak sejarah ratusan tahun di sepanjang Bengawan Solo.

“Ini adalah gerakan dari rakyat untuk alam yang sangat masif. Tidak hanya mengatasi problem lingkungan, tetapi juga merawat nilai-nilai sejarah dan budaya agar tetap lestari bagi generasi mendatang,” pungkasnya.

Rangkaian Deklarasi Sabhyanadipala ditutup secara meriah dengan pementasan seni tradisional Wayang Blang Bleng bersama Ki Ompong Soedharsono serta gelar budaya kerakyatan, menandai lembaran baru gerakan konservasi sungai berbasis partisipasi warga di Kabupaten Tuban.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2