TUBAN — Semangat merawat kelestarian lingkungan dan warisan sejarah kembali bergemuruh di Bumi Ronggolawe. Ratusan warga yang tergabung dalam lintas elemen masyarakat, mulai dari pemerhati sungai, pegiat sejarah, hingga seniman budaya, resmi mendeklarasikan pembentukan Sabhyanadipala di kawasan bantaran Sungai Bengawan Solo di Tuban, Minggu (23/8/2026).

Deklarasi yang dihelat di dua titik krusial wilayah hilir ini bukan sekadar ajang seremonial tahunan, melainkan wujud komitmen nyata untuk menjaga dan memulihkan kehidupan di sekitar sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut. Rangkaian acara diawali dengan prosesi sakral di pelataran Prasasti Canggu, dilanjutkan aksi pengarungan sungai (Ngintir) sejauh 15 kilometer dari Dermaga Ngadirejo, Rengel, menuju Dermaga Kebomlati, Plumpang. Aksi navigasi air ini dikawal ketat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban bersama tim Basarnas Surabaya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ketua Pelaksana Deklarasi, Syaiful Amin, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasi mendalam atas tingginya antusiasme masyarakat serta perwakilan komunitas dari berbagai daerah. Meskipun persiapan dilakukan dalam tempo singkat, koordinasi lintas sektor berjalan sukses dan dihadiri oleh para pegiat dari Gresik, Nganjuk, Sidoarjo, Bojonegoro, Tulungagung, hingga Magelang.

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan luar biasa dari berbagai pihak. Antusiasme masyarakat dan komunitas yang tumpah ruah hari ini membuktikan bahwa Bengawan Solo adalah tanggung jawab moral kita bersama,” ujar Syaiful di hadapan sekitar 600 warga Desa Kebomlati.

Nama Sabhyanadipala sendiri memiliki makna filosofis sebagai Penjaga Peradaban Sungai. Komunitas ini lahir sebagai respons atas berbagai tantangan ekologis di aliran Bengawan Solo. Uniknya, gerakan ini memadukan aksi penyelamatan lingkungan dengan pendekatan tradisi dan kebudayaan lokal.

Pemberangkatan tim pengarung sungai diwarnai kirab budaya sejauh 400 meter yang diiringi lantunan Piweling atau pesan leluhur dari Ki Ompong Soedharsono, Pandito Dungo, serta pementasan Tari Sufi.

Camat Plumpang, Saefiyudin, yang hadir dalam prosesi penyerahan mandat (Pasrah Tinampi) menilai inisiatif ini sangat penting. Menurutnya, seluruh peradaban besar dunia selalu lahir dan tumbuh di sekitar aliran sungai besar.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2