Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, menjelaskan bahwa perbaikan kualitas aset ini berkontribusi pada penghematan beban pencadangan, dengan credit cost turun dari 1% menjadi 0,9%, sejalan dengan target aspirasi BNI tahun ini.
“Pertumbuhan kredit yang sehat juga didukung oleh peningkatan dana pihak ketiga (DPK) BNI yang tumbuh 5% YoY menjadi Rp 819,6 triliun,” ungkapnya.
Pertumbuhan tertinggi berasal dari penghimpunan dana murah (CASA) yang meningkat 6,3%, terutama pada produk tabungan yang tumbuh solid sebesar 10,2% YoY menjadi Rp 257,8 triliun.
“Keberhasilan digitalisasi melalui aplikasi Wondr by BNI dan BNIdirect juga berkontribusi terhadap peningkatan CASA, sehingga rasio dana murah meningkat menjadi 70,5% dari total DPK, yang merupakan yang tertinggi dalam empat kuartal terakhir,” jelasnya .
Paolo menambahkan bahwa pertumbuhan berkualitas dari sisi kredit dan DPK telah mendorong kenaikan net interest income (NII) sebesar 4,7% YoY menjadi Rp 9,8 triliun, serta pendapatan operasional yang naik 2,8% menjadi Rp 15,25 triliun.
“Pencapaian kinerja keuangan BNI pada Kuartal I-2025 mencerminkan pertumbuhan kredit yang sehat serta keberhasilan dari transformasi digital yang turut mendukung peningkatan tabungan,” tutup Paolo dalam keterangan resminya.
>>> Klik berita lainnya di Google News BeritaSiber.Com





