Ia menyebut keberhasilan pembangunan pertanian melibatkan banyak unsur, mulai dari TNI, Polri, kejaksaan, penyuluh pertanian lapangan (PPL), Babinsa, Bhabinkamtibmas, perangkat desa hingga pemerintah daerah dan kementerian terkait.
“Kita mulai dari TNI, Polri, Kejaksaan, PPL, Babinsa, Bhabinkamtibmas, RT, RW, kepala desa, camat, bupati, gubernur dan seluruh menteri terkait. Ini adalah gagasan besar Bapak Presiden Republik Indonesia,” kata Amran.
Meski demikian, pemerintah masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah. Dari 11 komoditas strategis yang menjadi sasaran swasembada, masih terdapat tiga komoditas yang menurut Amran membutuhkan perhatian lebih serius, yakni kedelai, daging sapi dan susu.
Kementan menargetkan ketiga komoditas tersebut dapat dikejar melalui peningkatan produksi, penguatan sistem budidaya, perbaikan produktivitas serta kolaborasi lintas sektor. Amran optimistis target tersebut dapat dicapai dalam tiga hingga lima tahun mendatang.
“Kita akan mendorong, mengejar. Dari 11 komoditas, masih ada tiga yang harus kita kejar, yaitu daging sapi, susu dan kedelai. Kami yakin kalau kita kolaborasi dan kompak, pasti ini bisa kita capai,” tuturnya.
Selain capaian produksi dan perdagangan, Kementan juga menyampaikan perkembangan dari sisi tata kelola pemerintahan. Kementerian tersebut kembali memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas laporan keuangan tahun anggaran 2025.
“Dua hari yang lalu kita mendapatkan opini WTP dari BPK,” kata Amran.
Di tengah kondisi global yang masih menghadapi ketidakpastian, kemampuan menjaga ketersediaan pangan dinilai menjadi modal penting bagi Indonesia. Konflik geopolitik, potensi krisis pangan serta fluktuasi harga komoditas internasional menjadi tantangan yang dapat memengaruhi stabilitas pangan setiap negara.
Amran menilai Indonesia justru mampu menunjukkan ketahanan dengan menjaga produksi domestik dan membuka peluang ekspor. “Alhamdulillah, di saat krisis melanda belahan dunia, Indonesia surplus, bahkan ekspor beras ke negara lain,” ujarnya.
Penguatan sektor pertanian juga diarahkan untuk mendukung ketahanan energi. Salah satunya melalui pemanfaatan produk sawit sebagai bahan baku biofuel. Menurut Amran, penggunaan CPO untuk kebutuhan biofuel turut membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar hingga sekitar 5 juta ton.
Amran menegaskan, berbagai capaian tersebut harus menjadi pijakan untuk memperkuat pertanian sebagai fondasi kedaulatan nasional. Ia meminta jajaran Kementan mempertahankan ritme kerja dan kolaborasi demi memastikan capaian yang telah diraih dapat berkelanjutan.
“Kementerian Pertanian bekerja tanpa tanggal merah, semuanya tanggal hitam. Itu demi Merah Putih, demi kehormatan bangsa,” tegasnya.
Ia optimistis Indonesia memiliki modal besar untuk meningkatkan posisi ekonominya di tengah persaingan global. Menurut Amran, kekuatan sumber daya alam, bonus demografi dan potensi sektor strategis, termasuk pertanian, dapat menjadi fondasi bagi Indonesia menuju negara dengan kekuatan ekonomi yang semakin besar.
“Indonesia negara besar, potensinya luar biasa. Bahkan diprediksi pada 2045 atau 2050 Indonesia menjadi kekuatan nomor lima dunia, bahkan bisa nomor tiga dunia. Ini yang harus kita rebut ke depan,” pungkas Amran.





