Selain mengembangkan kreativitas, kegiatan kolase juga melatih ketelitian dan kesabaran. Anak perlu memilih bahan, mengatur posisi biji, serta menempelkannya dengan hati-hati agar sesuai dengan pola.

Proses tersebut secara tidak langsung melatih koordinasi antara mata dan tangan. Anak juga diberikan kesempatan untuk menentukan sendiri pilihan bahan dan cara menyusun karya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Bagi penyelenggara, pendekatan kreatif seperti ini menjadi salah satu cara menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan. Anak-anak tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi belajar melalui praktik langsung.

Kegiatan berbasis kreativitas dan lingkungan juga menjadi bagian dari pesan besar Jagawana 5.0. Program kerja BEM Unair tersebut sebelumnya telah menggelar sejumlah kegiatan di Desa Dilem, termasuk edukasi kesehatan bagi siswa dan kegiatan penanaman hortikultura bersama masyarakat.

Karya Dibawa Pulang sebagai Pengalaman

Setelah seluruh peserta menyelesaikan kolasenya, kegiatan dilanjutkan dengan dokumentasi bersama. Anak-anak tampak menunjukkan hasil karya masing-masing kepada panitia dan mahasiswa.

Karya tersebut menjadi bukti dari proses belajar yang mereka jalani selama workshop.

Bagi anak-anak Desa Dilem, kegiatan tersebut bukan hanya soal menghasilkan gambar dari biji-bijian. Mereka mendapatkan pengalaman bahwa belajar dan berkarya dapat dilakukan dengan cara sederhana, menyenangkan, serta memanfaatkan potensi yang ada di sekitar.

Melalui workshop kolase biji-bijian, Jagawana 5.0 juga berupaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 tentang pendidikan berkualitas dan tujuan ke-15 tentang ekosistem daratan.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai aktivitas sehari. Pengalaman anak-anak dalam memanfaatkan bahan alami sebagai media kreativitas diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.

Di sisi lain, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat yang mempertemukan dunia pendidikan tinggi dengan kebutuhan masyarakat desa.

Dari sebuah balai desa di Dilem, biji jagung, kacang hijau, dan beras hari itu memiliki fungsi berbeda. Bahan sederhana tersebut menjadi sarana anak-anak belajar tentang kreativitas, ketelitian, dan pemanfaatan lingkungan secara bijak.

Jagawana 5.0 pun menunjukkan bahwa edukasi lingkungan tidak selalu harus disampaikan melalui kegiatan yang rumit. Dari sebuah kolase sederhana, anak-anak dapat diajak mengenal lingkungan sekaligus menemukan ruang untuk menuangkan imajinasi mereka.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2