SIDOARJO, BeritaSiber.com – Keragaman produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi modal penting bagi Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, untuk mengembangkan potensi wisata berbasis ekonomi lokal.

Melihat peluang tersebut, dosen Program Studi S2 Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) memberikan pendampingan kepada masyarakat guna memperkuat daya saing produk sekaligus merancang pengalaman wisata yang menarik bagi pengunjung.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Sepande pada awal Oktober 2026 ini dikemas dalam pelatihan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Kebijakan Fakultas bertajuk “Fasilitasi Pengembangan Produk Berbasis Potensi Unggulan Desa Wisata”. Sebanyak 24 peserta, yang terdiri atas perangkat desa, pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan pelaku UMKM, mengikuti kegiatan tersebut.

Program ini merupakan kelanjutan dari pendampingan yang telah dilakukan pada 2025. Melalui lokakarya pemetaan potensi desa pada tahun sebelumnya, tim UNESA mengidentifikasi sembilan produk dan usaha unggulan, meliputi tempe, lontong, batik, lele dan olahannya, telur asin, makanan ringan, tahu dan olahannya, ternak kambing, serta ternak bebek.

Tim pengabdian diketuai Dr. Sanaji, S.E., M.Si., bersama lima anggota, yakni Dr. Andre Dwijanto Witjaksono, S.T., M.Si.; Dr. Yessy Artanti, S.E., M.Si.; Dr. Harlina Meidiaswati, S.E., M.Si.; Dr. Cici Widowati, S.P., M.S.M.; dan Dr. Dewi Ratih, S.E., M.S.M. Pelaksanaan program turut didukung dua mahasiswa, Faiz Bahalwan dan Marisa Intan Prawesti.

Ketua tim, Sanaji, menjelaskan bahwa pengembangan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan keberadaan produk unggulan. Potensi tersebut perlu dikelola secara terarah agar mampu memberikan pengalaman berbeda kepada wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

“Kegiatan ini bertujuan memulai transformasi pengelolaan desa wisata dengan mengoptimalkan produk-produk unggulan desa menjadi produk wisata yang lebih menarik,” ujarnya.

Sejak ditetapkan sebagai desa wisata pada 2023, Sepande mengusung identitas Desa 1000 UMKM. Keragaman usaha masyarakat, keberadaan sentra pedagang kaki lima, serta akses yang relatif mudah dari Sidoarjo dan Surabaya menjadi modal pendukung pengembangannya. Kawasan di sepanjang Jalan Perumahan Gading Fajar dan Sidokare Asri juga dikenal sebagai pusat kuliner serta perdagangan buah dan pakaian.

Namun, besarnya potensi tersebut masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Keterbatasan kapasitas sumber daya manusia, inovasi produk yang belum sepenuhnya mengikuti perubahan selera konsumen, serta belum optimalnya kemampuan mengemas produk lokal menjadi atraksi wisata menjadi beberapa hal yang perlu dibenahi. Selain itu, pemahaman masyarakat tentang kontribusi desa wisata terhadap pertumbuhan ekonomi lokal juga perlu terus diperkuat.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2