SIDOARJO, BeritaSiber.com – Potensi wisata Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, tidak hanya bertumpu pada daya tarik destinasi, tetapi juga pada aktivitas ekonomi masyarakat yang berkembang melalui lebih dari seribu pelaku usaha.
Dikenal sebagai Desa 1000 UMKM, Sepande menawarkan pengalaman wisata yang memungkinkan pengunjung mengenal secara langsung keragaman produk dan usaha lokal, mulai dari tempe, lontong, batik tulis, hingga aneka makanan tradisional.
Di balik peluang tersebut, meningkatnya kunjungan wisatawan juga menuntut kesiapan pengelola dalam menjaga keselamatan, kenyamanan, dan keberlangsungan aktivitas usaha. Untuk mendukung kebutuhan itu, dosen Program Studi S2 Manajemen Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menyelenggarakan pelatihan manajemen risiko bagi pengelola dan pelaku usaha Desa Wisata Sepande pada awal Oktober 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Sepande ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Kebijakan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UNESA bertajuk “Manajemen Risiko untuk Pengelolaan Desa Wisata 1000 UMKM Sepande”. Sebanyak 24 peserta yang terdiri atas pelaku UMKM, perangkat desa, dan pengelola desa wisata mengikuti pelatihan tersebut.
Tim pengabdian diketuai Dr. Harlina Meidiaswati, S.E., M.Si., dengan anggota Dr. Andre Dwijanto Witjaksono, S.T., M.Si.; Dr. Sanaji, S.E., M.Si.; Dr. Yessy Artanti, S.E., M.Si.; Dr. Cici Widowati, S.P., M.S.M.; dan Dr. Dewi Ratih, S.E., M.S.M. Pelaksanaan kegiatan turut melibatkan dua mahasiswa Program Studi S2 Manajemen UNESA, yakni Devita Ariyanti dan Marisa Intan Prawesti.
Pemerintah Desa Sepande berperan sebagai mitra aktif dalam mendukung penyediaan fasilitas, penyusunan arah kegiatan, serta penyebarluasan materi kepada pelaku usaha lainnya. Kolaborasi ini menjadi bagian penting untuk membangun kesadaran bersama bahwa pengelolaan desa wisata membutuhkan koordinasi dan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan risiko.
Sepande memiliki beragam potensi ekonomi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Selain sentra produksi tempe yang melibatkan ratusan pelaku usaha, desa ini juga memiliki produsen lontong, perajin batik tulis, peternak kambing, serta usaha kembang goyang, telur asin, bank sampah, opak gambir, dan tahu. Keragaman tersebut membuka peluang bagi wisatawan untuk menikmati produk lokal sekaligus mengenal proses produksi dan kehidupan ekonomi masyarakat.
Namun, semakin beragam aktivitas wisata dan usaha yang terlibat, semakin besar pula kebutuhan untuk mengantisipasi berbagai risiko. Koordinasi operasional, konsistensi kualitas produk, kelayakan fasilitas, serta kenyamanan dan keselamatan pengunjung menjadi aspek yang perlu dikelola secara sistematis. Perbedaan kemampuan antar pelaku usaha juga berpotensi memengaruhi mutu layanan dan citra desa wisata secara keseluruhan.
Tim pengabdian turut mengidentifikasi perlunya sistem manajemen risiko yang lebih terstruktur, mulai dari pencatatan potensi bahaya hingga prosedur penanganan insiden dan pemantauan secara berkala. Di samping risiko operasional, aspek keuangan juga menjadi perhatian, terutama terkait fluktuasi pendapatan dan ketergantungan pada sumber pendanaan eksternal yang dapat memengaruhi keberlanjutan pengelolaan desa wisata.





